Porno Anak SMA

Wah.. Ternyata benar ya apa yang dikatakan oleh orang, supaya Blog kita banyak yang mengunjungi maka harus memberi judul atau tag yang paling orang gemari. Hahahaha..

Eit, berhubung kamu udah membuka blog ini mendingan kamu baca aja deh. Kayaknya bermanfaat buat kita semua. Khususnya anak remaja yang masih duduk di bangku SMA.

Akhir-akhir ini banyak sekali pemberitaan miring tentang anak SMA. Ada yang mengatakan bahwa anak SMA itu hobinya bikin masalah aja. Baik tawuran maupun sekarang yang lagi hot-hotnya di dunia maya, yaitu porno. Entah itu foto bugil anak SMA maupun video porno yang dibintangi oleh anak SMA. Sungguh tragedi yang memilukan. Kenapa anak SMA sampai berani seperti itu? Apakah untuk cari sensasi? Kenapa lewat jalan yang kayak gitu?

Berita yang miris ini seharusnya jadi pusat perhatian kita semua, kita harus peduli dengan nasib para remaja generasi muda penerus bangsa ini.

Pernahkah kamu mencoba mengetik “anak SMA” di Google? Ya, sungguh tragis. Tidak sedikit blog yang menulis artikel tentang foto bugil dan video porno anak SMA. Apakah sampai separah itu? Sepertinya nama baik anak SMA sudah tercoreng. Gara-gara satu orang yang melakukan hal itu, semua anak SMA divonis pernah melakukan seks bebas. Kenapa aku berani bilang begitu? Karena aku pernah diejek oleh teman ku satu kos, kebetulan dia lulusan Aliyah dan aku lulusan SMA. Dia bilang gadis-gadis SMA sudah tidak ada yang perawan lagi. Tentunya saya sebagi alumni SMA merasa sakit hati divonis seperti itu.

Nah, buat teman-teman yang masih duduk dibangku SMA, mari kita tunjukan pada dunia bahwa anak SMA tidak seperti yang terlihat di internet. Anak SMA itu penuh prestasi, anak SMA itu manusia yang berpendidikan, anak SMA itu punya moral dan akhlak yang mulia, anak SMA itu keren dan pintar. Oke??

Oleh karena itu, mari dari sekarang kita musuhi yang namanya Porno Grafi dan Porno Aksi. Kita adalah pemuda yang berprestasi. Hidup anak SMA!!!!

Akhir kata, aku hanya ingin berpesan buat para remaja khususnya yang duduk di bangku SMA,

“JANGAN BUGIL DI DEPAN KAMERA!!!!”

 

In-Team – Siti Khadijah (Lirik Nasyid)

Oke, kali ini ana akan posting lirik nasyid dari grup munsyid In-Team yang berjudul Siti Khadijah.

Ya, Langsung saja, Ini Dia….:)

 

InTeam

 

 

 

Siti Khadijah – InTeam

Siti Khadijah srikandi sejati

Kaulah lambang cinta sejati
Srikandi pertama tika islam bermula
Hatimu menyalakan keyakinan
Hartamu membuktikan pengorbanan

Rasul keseorangan engkaulah teman
Dia tersisih engkau memilihnya
Dia terbuang engkau menyayanginya
Kerana iman kau sanggup berjuang

O wo…
Siti Khadijah namamu indah
Qudwah hasanah tauladan ummah
Jika rasul terpinggir
Engkaulah insan terhampir

Siti Khadijah mujahidah solehah
Agung jasamu dipersada sejarah
Pemergianmu ditangisi nabi
Hingga kini tiada pengganti

Sunyi jalan menuju Allah
Menggamit hati mencari teman
Indah jalan menuju allah
Jika teman seperti Khadijah
Masih ada lagi…

Kebebasan Psikologis, Menentukan Tumbuhnya Kreativitas Anak

Masa dini anak pada usia prasekolah adalah tahun-tahun paling efektif dalam kehidupan manusia untuk pengembangan kreativitas. Potensi anak seusia itu berada pada masa yang amat penting untuk dirangsang perkembangannya. Untuk mendukung tumbuhnya kreativitas, perlu diciptakan suasana yang menjamin terpeliharanya kebebasan psikologis.
Kebebasan psikologis itu dapat dipelihara dan diciptakan dengan membangun suasanan bermain yang dapat melatih dan memberikan kesempatan pada anak untuk menampilkan gagasan-gagasan baru secara lancar dan orisinal.
Anak usia prasekolah memiliki kreativitas alamiah yang tampak dari perilaku mereka yang sering bertanya, senang menjajaki lingkungan, tertarik untuk mencoba segala sesuatu, dan memiliki daya khayal yang tinggi. Potensi kreativitas itu menurut sebagian ahli mulai meningkat pada usia tiga tahun dan mencapai puncaknya pada usia 4,5 tahun. Kemudian, potensi itu akan segera menurun pada saat anak meninggalkan masa prasekolah dan mulai memasuki sekolah dasar.
Oleh karena itu, upaya perangsangan kreativitas pada usia prasekolah sangat penting artinya. Setelah melewati masa kritis, perangsangan berbagai aspek perkembangan dan kreativitas akan lebih sulit. Bahkan, sesudah anak memasuki pendidikan formal, potensi berpikir kreatif akan cenderung terhambat karena umumnya pendidikan formal kurang memberikan tempat bagi anak-anak kreatif.
Kreativitas anak usia prasekolah tak bisa dilepaskan dari faktor bermain. Kehidupan bermain adalah kehidupan anak-anak, dan melalui bermain mereka meniru aktivitas yang dilakukan orang dewasa. Bermain adalah awal dari timbulnya kreativitas. Bermain memberikan kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya, juga kesempatan untuk merasakan obyek-obyek dan tantangan untuk menemukan sesuatu dengan cara-cara baru.
Dengan demikian, suasana bermain memungkinkan individu berpikir dan bertindak imajinatif dan penuh daya khayal. Itu memungkinkan anak menguasai keterampilan-keterampilan motorik dan mengenali nilai-nilai sosial yang dianut oleh lingkungannya. Oleh karena itu, kreativitas anak usia prasekolah dapat ditingkatkan dengan mengembangkan berbagai kegiatan dan suasana bermain.
Orangtua dan guru dapat berperan aktif menciptakan suasana bermain melalui sikap menghargai dan menghormati keberadaan anak sebagai individu, menerima anak sebagaimana adanya, memberikan kebebasan kepada anak, dan menjauhi sikap otoriter dalam memupuk bakat dan minat anak untuk berprestasi dan berkreasi secara aktual.
Dalam praktiknya, sering terjadi pemasungan kreativitas tanpa sengaja yang muncul dalam perilaku orangtua yang cenderung otoriter, yang tidak pernah mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah keluarga, yang mengambil jalan pintas, dan menganggap diri selalu lebih tahu.
Padahal sikap pemasungan kreativitas menyebabkan terjadinya kemunduran terhadap perkembangan anak. Bahkan akan menimbulkan kematian daya imajinasi anak yang akhirnya hanya akan menumbuhkan “robot-robot” kecil dalam masyarakat. Yaitu anak-anak yang hanya akan mematuhi perintah dan tergantung pada keputusan orang dewasa untuk melakukan segala hal.
Namun jika berlebihan dalam memberi kebebasan pada anak akan menjadikan anak bertingkah semaunya. Oleh karena itu, orang tua berperan penting dalm mengatur anak, tapi tidak boleh terlalu ikut campur dalam kaitannya dengan kreativitas anak, apalagi sampai membatasi daya imajinasi anak. Memberi kebebasan pada anak bukan berarti tanpa bimbingan dari orang tua. Hal ini dimaksudkan agar anak berkreativitas, namun tidak melanggar aturan-aturan yang berlaku.

Menyanyi, Melatih Kepekaan

Bagi sebagian orangtua, menyanyi masih dianggap sebagai suatu hal yang kurang penting dibandingkan pelajaran sekolah lainnya. Oleh karena itu, orangtua pun umumnya tidak mendorong anaknya untuk bisa bernyanyi, atau paling tidak mengajak anak menyukai lagu-lagu dan turut menyanyikannya.
Kedaan ini, ditambah lagi dengan pelajaran kesenian atau menyanyi di sekolah yang umumnya lebih banyak mencekoki anak dengan teori daripada praktik, sehingga pelajaran itu tidak menarik. Anak terpaksa menerimanya, karena mereka pun dituntut mendapat nilai bagus untuk mata pelajaran itu.
Akibatnya, anak justru merasa tertekan dan membenci mata pelajaran tersebut. disamping itu, dengan banyak praktik, otot suara dan kepekaan pendengaran anak bisa terlatih.
Meskipun pengetahuan tentang berbagai teori menyanyi juga diperlukan seorang anak, tetapi cara mengajarkannya sebaiknya tidak kaku dan berpatokan hanya dengan buku. Anak tetap bisa mengetahui beberapa macam  nada misalnya, dari suara-suara yang diperdengarkan langsung oleh dirinya sendiri atau teman-teman sekelasnya. Dari praktik menyanyikan lagu-lagu dengan benar, anak bisa langsung merasakan adanya berbagai warna nada seperti tinggi-rendah, panjang-pendek, keras-lembut, dan sebagainya.
Dari kegiatan ini, anak belajar tentang keselarasan nada, anak bisa mengetahui atau merasakan kapan suatu lagu dimulai dan sebagainya. Bernyanyi secara berkelompok memberikan pemahaman pada anak bahwa bernyanyi bersama itu membutuhkan tenggang rasa, kebersamaan dalam ucapan yang bisa menghasilkan keselarasan nada.
Menghadapi anak yang bersuara sumbang pun seharusnya guru tidak langsung  memvonis anak tak bisa menyanyi atau tak diikutkan dalam kegiatan tersebut. Anak bersuara sumbang tetap bisa dilatih agar mempunyai kepekaan padaseni suara, caranya antara lain dengan memberinya alat musik seperti angklung sehingga ia tetap bisa ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan itu.
Untuk menarik minat anak-anak pada seni suara, lirik lagu pun harus diperhatikan. Orangtua atau pun guru sebaiknya benar-banar memilihkan lagu yag liriknya mudah diucapkan, dihafal dan dimengerti artinya oleh anak-anak.
Lirik lagu yang baik aka bermanfaat pula untuk mengajarkan anak tentang berbagai hal dalam kehidupan ini. Bila si anak menyukai sebuah lagu, ia akan berusaha mencerna makna lirik tersebut. Kalau anak mengerti liriknya, biasanya secara spontan gaya anak-anaknya akan keluar. Orangtua dan guru sebaiknya tidak mengarahkan anak untuk bergaya sesuai dengan keinginan orangtua atau guru.
Bila anak sudah mampu menyanyikan sebuah lagu dengan baik, baik orangtua maupun guru diharapkan mau memberikan pujian atau tepuk tangan. Hal ini tampaknya sepele saja, namun sangat memberi manfaat bagi si anak untuk memupuk rasa percaya diri dan keberaniannya.
Ada sebagian orangtua yang ingin anaknya mempelajari suatu alat musik. Bila si anak berminat, memang tak ada salahnya. Namun, sebaiknya orangtua tidak memaksa kehendaknya. Kursus musik relatif mahal biayanya, belum lagi itu berarti orangtua harus menyediakan pula alat musiknya di rumah. Karena tanpa tersedianya alat musik di rumah seperti yang dipelajarinya di tempat kursus, akan menghambat perkembangan si anak.
Oleh karena itu, bila orangtua ingin anaknya mendapat kepekaan seni suara dan musik, di samping dari sekolah, orangtua bisa menyediakan alat musik yang harganya relatif terjangkau, seperti pianika, atau menyediakan berbagai kaset lagu anak-anak atau instrumentalia.

Kenali Tujuh Kemampuan Diri

Tanpa sadar sering kali orang langsung menilai seorang anak yang kerap mendapat nilai buruk di sekolah sebagai anak bodoh. Tak jarang pula terdengar orangtua yang merasa gundah begitu tahu hasil tes IQ (Intelligency Quotient) anaknya di bawah rata-rata. Sebagian orang menganggap IQ  seseorang itu sesuatu yang sifatnya permanen, tak mungkin ditingkatkan lagi.
Sebenarnya inteligensi seseorang itu bisa ditingkatkan dan bukan sesuatu yang mandek. Ada sementara pendapat yang menyatakan, pada usia 0 – 16 tahun sebenarnya IQ seseorang masih bisa ditingkatkan, pada usia 16 – 30 tahun cenderung stabil, dan di atas 30 tahun umumnya kemampuan seseorang mulai menurun.
Setiap orang memiliki belahan otak kiri dan otak kanan dalam dirinya. Idealnya, baik belahan otak kiri maupun otak kanan tersebut sama-sama berkembang. Namun pelajaran di sekolah umumnya lebih banyak menuntut kemampuan belahan otak kanan cenderung tak berkembang. Hal ini bisa merugikan anak yang belahan otak kanannya lebih berkembang daripada belahan otak kirinya. Anak yang begini tak jarang dianggap tak mampu mengikuti pelajaran di sekolah, padahal belum tentu pendapat itu benar.
Kurikulum sekolah yang lebih menekankan kemampuan otak kiri, memang menyusahkan bagi mereka yang kemampuan otak kanannya lebih dominan. Mereka yang otak kirinya dominan melakukan pendekatan pemecahan masalah berdasarkan fakta, analisa, perhitungan angka, dan menyatakannya dengan menunjukkan fakta disertai urutan logis. Mereka cenderung lebih mampu menghafal atau penurut, jadi tak bermasalah untuk sekolah yang umunya menuntut murid menghafal.
Mereka yang otak kanannya dominan mendekati persoalan berdasarkan spontanitas apa yang ada dalam pikiran, imajinasi, bentuk , suara, dan gerakan, lalu dikonsepkan dalam intuisinya. Mereka umumnya tak sukses di sekolah formal.  Karena mereka berkembang dengan kreativitas, bukan meniru apa yang diajarkan oleh guru, akibatnya, seringkali jawaban yang diberikan murid tak diterima oleh guru.
Sebenarnya setiap manusia mempunyai kemampuan diri yang berbeda-beda. Oleh karena itu, muncul perbedaan dalam proses penyerapannya. Ada tujuh inteligensi atau kemampuan anak yang berbeda-beda:
Kemampuan dasar orang, yaitu bahasa atau linguistik. Di sini kemmapuan anak mengolah kata terus berkembangyag biasanya seiring bertambahnya usia. Kemampuan ini umunya tak jadi masalah baik di sekolah maupun di luar sekolah. Hanya saja kalau sudah dewasa, orang yang kemampuan bahasanya bagus biasanya bisa berargumentasi dengan menrik dan persuasif.
Kemampuan logika mencakup rasionalitas, mengurutkan kejadian atau menarik hubungan antara simbol yang satu dengan yang lainnya, dan memikirkan sesuatu berdasarkan sebab akibatnya.
Kemampuan visual, yaitu kemampuan berpikir berdasarkan gambar, ruang atau bentuk yang dilihatnya dan mentransformasikannya dalam deskripsi yang baik dalam pikiran.
Kemampuan musikal atau ritme. Mereka yang kemampuan ritmenya tinggi antara lain mempunyai kemampuan mendengar perbedaan suara dengan baik.
Kinestetik atau kemampuan menendalikan dan meningkatkan fisiknya, misalnya kecepatan tubuh dalam bereaksi.
Kemampuan interpersonal, yaitu berhubungan atau bekerja sama dengan orang lain. Di sini termasuk empati, memahami orang lain, dan mudah bergau,
Interpersonal artinya kemampuan mawas diri, melihat dirinya sendiri dengan cara bagaimana orang lain melihat dirinya.
Ketujuh kemampuan itu ada pada semua orang di belahan otak kiri dan otak kanannya, hanya saja antara satu orang dengan yang lainnya berbeda mana yang lebih menonjol. Kalau pengetahuan itu bisa diketahui lebih dini, kekurangan dari salah satu atau lebih kemampuan itu bisa dikembangkan atau ditingkatkan.
Peningkatan ketujuh kemampuan tersebut akan maksimal bila dilatih sejak dini. 30 persen kemampuan itu berasal dari keturunan, dan selebihnya merupakan kemampuan yang dikembangkan.
Misalnya, untuk mengasah kemampuan musikal anak, sejak dini kepada mereka diperdengarkan berbagai jenis musik. Di sini tak hanya kemampuan musikal yang berkembang, tapi juga kepekaan perasaannya. Kemampuan itu tidak berdiri sendiri-sendiri, tetapi saling berhubungan dan saling melengkapi.
Untuk mengasah kemampuan interpersonal dapat dilatih, misalnya dengan membiasakan anak membuat buku harian. Pada saat tertentu ketika si anak membaca lagi catatan hariannya, ia diharapkan bisa merenungi apa saja yang telah ia lakukan selama ini, apa yang kurang atau apa yang salah selama perjalan hidupnya.
Mengenai kreativitas, hal ini tak hanya menyangkut bidang seni. Kreativitas sebenarnya ada juga dalam kemampuan bahasa dan logika. Contohnya, kreativitas logika akan mandek apabila anak terus-terusan dijejali mengenai pendapat-pendapat yang bersifat mitos, misalnya anak lelaki tak boleh cerewet atau tak boleh main boneka dan sebagainya.

Makalah Hadits Tarbawy “Tanggung Jawab Pendidikan Fisik”

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Perlu disadari bahwa keluarga merupakan tempat pendidikan pertama dan utama bagi seseorang, dan orang tua sebagai kuncinya. Pendidikan dalam keluarga berperan dalam pengembangan watak, kepribadian, nilai-nilai budaya, nilai-nilai keagamaan dan moral, serta keterampilan sederhana. Pendidikan dalam konteks ini mempunyai arti pembudayaan, yaitu proses sosialisasi dan enkulturasi secara berkelanjutan dengan tujuan untuk mengantar anak agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak luhur, tangguh mandiri, kreatif, inovatif, beretos kerja, setia kawan, peduli akan lingkungan dan sebagaianya.
Islam menempatkan suatu beban tangung jawab pada pundak setiap orang, di mana tak seorang pun bebas dari padanya. Orang tua bertanggung jawab memberikan kepada anak-anaknya suatu pendidikan dan ajaran Islam yang tegas, yang didasarkan atas karakteristik yang mulia sebagaimana disebutkan Nabi, bahwa beliau di utus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Melihat hal tersebut tidak ada bukti yang kuat mengenai beratnya tanggung jawab orang tua untuk membawa anak mereka mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian jelas bahwa orang tua (keluarga) bertanggung jawab atas perlindungan anaknya dari berbagai persoalan, baik yang berhubungan dengan persoalan dunia maupun akhirat.
Namun semua itu akan lebih mudah dengan adanya pendidikan yang benar terhadap fisiknya. Apabila fisik anak sudah dididik dengan maksimal, mudah sekali bagi anak untuk memahami arti dari akhlak itu sendiri. Misalnya makanan, merupakan pokok utama yang mengisi tubuh anak. Anak akan bertumbuh sesuai apa yang ia makan. Apabila ia memakan makanan halal, maka akan mudah baginya untuk menerima berbagai macam nasihat dan ilmu-ilmu yang bermanfaat, serta bisa mengamalkan perbuatan mulia dalam hidupnya. Tetapi, apabila anak diberi makanan yang haram, maka anak tersebut akan tumbuh dan berkembang dengan moral yang rendah, bahkan bisa dikatakan hancur.
Oleh karena itu, penting sekali bagi setiap orang tua (keluarga) bisa memberikan kebiasaan-kebiasaan positif dan tentunya halal bagi pertumbuhan anak, dari kecil hingga dewasa, demi keberlangsungan kehidupannya kelak.

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan disusunnya makalah ini ialah untuk mendeskripsikan tentang pentingnya peranan orang tua terhadap tanggung jawab pendidikan fisk dalam keluarga, berupa:
Kewajiban memberi nafkah kepada keluarga dan anak.
Mengikuti aturan-aturan yang sehat dalam makan, minum, dan tidur.
Meindungi diri dari penyakit menular.
Pengobatan terhadap penyakit.
Membiasakan anak berolah raga ketangkasan dan bersikap tegas.

Metode Penulisan
Penulis hanya menggunakan metode Browsing Network dan kepustakaan dalam pembuatan makalah ini. Dalam metode ini penulis menelusuri internet untuk mencari pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan pokok bahasan yang telah ditentukan dan membaca buku-buku yang relevan.

BAB II
PEMBAHASAN

Beberapa tanggung jawab yang dipikulkan Islam di atas pundak para pendidik, seperti ayah, ibu dan pengajar, adalah tanggung jawab fisik. Yang demikian itu agar anak-anak tumbuh dewasa dengan kondisi fisik yang kuat dan selamat, sehat bergairah dan bersemangat. Dasar-dasar ilmiah yang digariskan Islam dalam mendidik fisik anak-anak ialah supaya para pendidik dapat mengetahui besarnya tanggung jawab dan amanat yang diserahkan Allah swt.

Kewajiban Memberi Nafkah Kepada Keluarga dan Anak
Memberi nafkah merupakan kewajiban bagi orang tua, khususnya ayah, selaku pemimpin dalam keluarga. Sesuai dengan perintah Allah dalam Q.S. al-Israa’ ayat 26:


Artinya: “ Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya…”

Namun nafkah yang dimaksudkan ialah nafkah yang baik dan tentunya halal. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 233:

Artinya: “…Dan kewajiban ayah untuk memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik…”

Memberi nafkah kepada keluarga merupakan kewajiban dan diganjar dengan pahala, sesuai dengan hadits berikut:
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهِيَ لَهُ صَدَقَةٌ
Dari Ibnu Mas’ud RA dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Apabila seseorang memberi nafkah untuk keluarganya dengan niat mengharap pahala maka baginya (pahala) sedekah.” (HR. Bukhari)
Penjelasan hadits:
1. Nafkah yang dimaksud di sini adalah apa yang diwajibkan oleh Allah kepada seorang laki-laki terhadap keluarganya, yaitu memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan (pakaian, makanan dan tempat tinggal) sebagai kebutuhan dasar dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Oleh karena itu, dalam hadits ini tidak digunakan kata “memberi makan”, tapi “memberi nafkah”, karena “memberi nafkah” lebih umum mencakup memenuhi kebutuhan makan dan kebutuhan pokok lainnya.
2. Keluarga yang dimaksud dalam hadits ini adalah semua orang yang menjadi tanggungan seorang laki-laki (kepala rumah tangga), terutama istri dan anak-anak. Kewajian seorang laki-laki atau kepala keluarga adalah memenuhi kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungannya. Seorang kepala rumah tangga harus bekerja dan berusaha mencari nafkah untuk keluarganya. Tidak boleh berpangku tangan atau malah membiarkan istrinya membanting tulang menafkahi keluarga.
3. Sedekah tidak terbatas pada harta atau uang, tapi bisa dengan tindakan dan amal perbuatan, seperti disebutkan pada hadits yang lain: “… menghilangkan duri dari jalan adalah sedekah, dan perkataan yang baik adalah sedekah…”
4. Dalam hadits ini terdapat petunjuk untuk mengembangkan amal perbuatan dengan membaguskan niat. Sebagai contoh, ada dua orang sama-sama mengerjakan suatu amal wajib atau sunnah yang sama, tapi salah satunya bisa mendapatkan pahala yang lebih jika dia membaguskan niat dan mengharap pahala dari Allah. Jadi, tidak sekedar pahala amal tersebut yang didapatkan tapi ada “bonus” dari Allah.
5. Sedekah yang dimaksud di sini adalah pahalanya. Jadi, orang yang melakukan amalan yang disebutkan dalam hadits ini akan mendapatkan dua macam pahala:
Pahala memberi nafkah kepada keluarga, karena dia telah melakukan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah, dan
Pahala sedekah sebagai pahala tambahan atau “bonus”.

Mengikuti Aturan-aturan yang Sehat Dalam Makan, Minum, dan Tidur
Islam mengatur etika dalam makan, minum, dan tidur demi kesehatan umatnya. Hal ini dimaksudkan, selain sehat juga dihitung sebagai ibadah. Berikut ini merupakan beberapa hadits yang menjelaskan mengenai etika bersantap dan tidur:
Etika Makan dan Minum
Membaca Basmallah, makan menggunakan tangan kanan, dan memakan makanan yang lebih dekat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah berikut ini:
يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
Artinya: “Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Bukhari no. 5376 dan Muslim 2022).
Dianjurkan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.
Memang dalam hal ini, tidak ditemukan satu pun hadits shahih yang membicarakan tentang cuci tangan sebelum makan, namun hanya berstatus hasan. Imam Baihaqi mengatakan, “Hadits tentang cuci tangan sesudah makan adalah hadits yang berstatus hasan, tidak terdapat hadits yang shahih tentang cuci tangan sebelum makan.”
Walau demikian, cuci tangan sebelum makan tetap dianjurkan, untuk menghilangkan kotoran atau hal-hal yang berbahaya bagi tubuh yang melekat di tangan kita.
Ibnu Muflih mengisyaratkan, bahwa cuci tangan sebelum makan itu tetap dianjurkan, dan ini merupakan pendapat beberapa ulama. Dalam hal ini ada kelapangan. Artinya jika dirasa perlu cuci tangan, jika dirasa tidak perlu tidak mengapa.
Mengenai cuci tangan sesudah makan, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang tidur dalam keadaan tangannya masih bau daging kambing dan belum dicuci, lalu terjadi sesuatu, maka janganlah dia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR. Ahmad, no. 7515, Abu Dawud, 3852 dan lain-lain, hadits ini dishahihkan oleh al-Albani)
Larangan mencela makanan.
Abu Hurairah r.a., berkata  ”Rasulullah saw. selamanya tidak pernah mencela makanan. Jika beliau suka dimakannya, bila tak suka ditinggalkannya.” (HR. Mutafaq alaihi).
Sunah makan dengan Tiga Jari.
Dari Ka’ab bin Malik r.a., dia berkata: “Aku melihat Rasulullah saw, makan dengan tiga jari. Bila telah selesai, beliau menjilatinya.” (HR. Muslim)
Anjuran makan dari pinggir talam.
Dari Ibnu Abbas r.a., dari Nabi saw., beliau bersabda: “Berkah itu turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari kedua pinggirnya, janganlah memulai dari tengahnya.” (HR. Abu Dawud dan Timidzi).
Makan dan minum sambil berdiri.
Hendaklah makan dan minum dengan baik dan tenang, yaitu dengan duduk. Namun jika dilakukan dengan berdiri juga tidak mengapa. Hadits mengenai etika makan dan minum sambil berdiri ini ialah sebagai berikut:
Hadits-Hadits yang melarang makan dan minum sambil berdiri:
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sambil minum berdiri. (HR. Muslim no. 2024, Ahmad no. 11775 dll)
Dari Abu Sa’id al-Khudriy, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang minum sambil berdiri. (HR. Muslim no. 2025, dll)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian minum sambil berdiri. Barang siapa lupa sehingga minum sambil berdiri, maka hendaklah ia berusaha untuk memuntahkannya.” (HR. Ahmad no 8135)
Hadits-hadits yang membolehkan makan dan minum sambil berdiri:
Dari Ibnu Abbas beliau mengatakan, “Aku memberikan air zam-zam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau lantas minum dalam keadaan berdiri.” (HR. Bukhari no. 1637, dan Muslim no. 2027)
Dari An-Nazal, beliau menceritakan bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu mendatangi pintu ar-Raghbah lalu minum sambil berdiri. Setelah itu beliau mengatakan, “Sesungguhnya banyak orang tidak suka minum sambil berdiri, padahal aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan sebagaimana yang baru saja aku lihat.” (HR. Bukhari no. 5615)
Dalam riwayat Ahmad dinyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Apa yang kalian lihat jika aku minum sambil berdiri. Sungguh aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah minum sambil berdiri. Jika aku minum sambil duduk maka sungguh aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk.” (HR Ahmad no 797)
Dari Ibnu Umar beliau mengatakan, “Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kami minum sambil berdiri dan makan sambil berjalan.” (HR. Ahmad no 4587 dan Ibnu Majah no. 3301 serta dishahihkan oleh al-Albany)
Di samping itu Aisyah dan Said bin Abi Waqqash juga memperbolehkan minum sambil berdiri, diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Zubaer bahwa beliau berdua minum sambil berdiri. (lihat al-Muwatha, 1720 – 1722)
Anjuran makan sambil berbicara.
Selama ini, di sebagian daerah bila ada orang makan sambil bicara dianggap tabu. Sudah saatnya anggapan demikian kita hapus dari benak kita, sunnah Nabi menganjurkan makan sambil bicara. Hal ini bertujuan menyelisihi orang-orang kafir yang memiliki kebiasaan tidak mau berbicara sambil makan. Kita diperintahkan untuk menyelisihi mereka dan tidak menyerupai mereka dalam hal-hal yang merupakan ciri khusus mereka.
Ibnul Muflih mengatakan bahwa Ishaq bin Ibrahim bercerita, “Suatu ketika aku makan malam bersama Abu Abdillah yaitu Imam Ahmad bin Hanbal ditambah satu kerabat beliau. Ketika makan kami sedikit pun tidak berbicara sedangkan Imam Ahmad makan sambil mengatakan alhamdulillah dan bismillah setelah itu beliau mengatakan, “Makan sambil memuji Allah itu lebih baik daripada makan sambil diam.” Tidak aku dapatkan pendapat lain dari Imam Ahmad yang secara tegas menyelisihi nukilan ini. Demikian juga tidak aku temukan dalam pendapat mayoritas ulama pengikut Imam Ahmad yang menyelisihi pendapat beliau di atas. Kemungkinan besar Imam Ahmad berbuat demikian karena mengikuti dalil, sebab di antara kebiasaan beliau adalah berupaya semaksimal mungkin untuk sesuai dengan dalil.” (Adab Syariyyah, 3/163)
Larangan bernafas dan meniup air minum.
Etika makan dan minum tidak luput dari kajian para ulama yang semuanya bersumberkan dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, antara lain anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak bernafas dan meniup air ke dalam gelas atau wadah air. Dalam hal ini, terdapat beberapa hadits:
Dari Abu Qatadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian minum maka janganlah mengambil nafas dalam wadah air minumnya.” (HR. Bukhari no. 5630 dan Muslim no. 263)
Dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk mengambil nafas atau meniup wadah air minum.” (HR. Turmudzi no. 1888 dan Abu Dawud no. 3728, hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani)
Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi mengatakan, “Larangan bernafas dalam wadah air minum adalah termasuk etika karena dikhawatirkan hal tersebut mengotori air minum atau menimbulkan bau yang tidak enak atau dikhawatirkan ada sesuatu dari mulut dan hidung yang jatuh ke dalamnya dan hal-hal semacam itu. Dalam Zaadul Maad IV/325 Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat larangan meniup minuman karena hal itu menimbulkan bau yang tidak enak yang berasal dari mulut. Bau tidak enak ini bisa menyebabkan orang tidak mau meminumnya lebih-lebih jika orang yang meniup tadi bau mulutnya sedang berubah. Ringkasnya hal ini disebabkan nafas orang yang meniup itu akan bercampur dengan minuman. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua hal sekaligus yaitu mengambil nafas dalam wadah air minum dan meniupinya.
Anjuran bernafas sebanyak tiga kali sebelum minum.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum beliau mengambil nafas di luar wadah air minum sebanyak tiga kali.” Dan beliau bersabda, “Hal itu lebih segar, lebih enak dan lebih nikmat.” Anas mengatakan, “Oleh karena itu ketika aku minum, aku bernafas tiga kali.” (HR. Bukhari no. 45631 dan Muslim no. 2028)
Yang dimaksud bernafas tiga kali dalam hadits di atas adalah bernafas di luar wadah air minum dengan menjauhkan wadah tersebut dari mulut terlebih dahulu, karena bernafas dalam wadah air minum adalah satu hal yang terlarang sebagaimana penjelasan di atas.
Yang memberi minum kepada orang banyak adalah yang terakhir minum.
Dari Abu Qatadah r.a. , dari Nabi saw., beliau bersabda: “Orang yang melayani minum orang banyak hendaklah ia paling akhir minum di antara mereka. Maksudnya, ia adalah orang yang paling terakhir minum.” (HR. Tirmidzi).
Etika Tidur
Adab-adab tidur sesuai ajaran Rasulullah SAW memang sudah sepantasnya kita terapkan. Bila kita mengikuti adabnya, maka Insya Allah tidur kita dinilai ibadah. Apabila tidur kita dinilai ibadah, coba bayangkan berapa banyak pahala yang kita dapatkan seumur hidup dari tidur kita? Katakan kita tidur 8 jam sehari, maka 1/3 dari hari kita gunakan hanya untuk tidur! Kalau ditelusuri terus sampai akhir hidup, maka kita menggunakan 1/3 hidup kita hanya untuk tidur! Maka dari itu kegiatan rutin ini merupakan hal yang sangat penting untuk menerapkan adab sesuai ajaran Rasulullah. Berikut di bawah hadist panduannya :
Dianjurkan introspeksi diri sebelum tidur.
Berintrospeksi diri (muhasabah) sesaat sebelum tidur. Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuha-sabah (berintrospeksi diri) sesaat sebelum tidur, menge-valuasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya, kembali dan bertobat kepada-Nya.
Berwudhu sebelum tidur.
Kita sebaiknya tidur dalam keadaan sudah berwudhu, sebagaimana hadits: “Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan sholat.” (HR. Al-Bukhari No. 247 dan Muslim No. 2710).
Mengibaskan tempat tidur bila hendak tidur.
Sebelum tidur, hendaknya mengibaskan tempat tidur (membersihkan tempat tidur dari kotoran). Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW : “Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan ‘bismillah’, karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” (HR. Al Bukhari No. 6320, Muslim No. 2714, At-Tirmidzi No. 3401 dan Abu Dawud No. 5050).

Posisi tidur yang baik adalah miring ke sebelah kanan.
untuk posisi tidur, sebaiknya posisi tidur di atas sisi sebelah kanan (rusuk kanan sebagai tumpuan). Tidak menjadi masalah jika pada saat tidur nanti posisi kita berubah ke atas sisi kiri. Hal ini berdasarkan sabda Rosululloh: “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710). “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud no. 5045, At Tirmidzi No. 3395, Ibnu Majah No. 3877 dan Ibnu Hibban No. 2350).
Membaca doa sebelum tidur.
“Bismikaallahumma ahya wa bismika wa amuut”. Yang artinya : Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.
Larangan telanjang ketika tidur.
Pada saat tidur tidak boleh telanjang berdasarkan hadits berikut : “Tidak diperbolehkan tidur hanya dengan memakai selimut, tanpa memakai busana apa-apa”. (HR. Muslim).
Dilarang tidur satu selimut dengan sesama jenis kelamin.
Laki-laki dengan laki-laki atau wanita dengan wanita tidak boleh tidur dalam satu selimut seperti hadits berikut : “Tidak diperbolehkan bagi laki-laki tidur berdua (begitu juga wanita) dalam satu selimut”. (HR. Muslim).

Makruh tidur tengkurap.
Abu Dzar Radhiallaahu anhu menuturkan : Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda : Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka. (H.R. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur.
Karena di dalam hadits yang bersumber dari `Ali bin Syaiban disebutkan bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda : Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya. (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
Disunnahkan mengusap Wajah dengan Tangan setelah Bangun.
Dari Jabir Radhiallaahu anhu diriwayatkan bahwa sesung-guhnya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda : Padamkanlah lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman. (Muttafaq `alaih)
Disunnahkan mengusap Wajah dengan Tangan setelah Bangun
Berdasarkan hadits berikut : “Maka bangunlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari tidurnya kemudian duduk sambil mengusap wajah dengan tangannya.” [HR. Muslim No. 763 (182)].
Bersiwak Setelah Bangun.
Berdasarkan hadits berikut : “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun malam membersihkan mulutnya dengan bersiwak.” (HR. Al Bukhari No. 245 dan Muslim No. 255).
Ber-istinsyaq dan ber-istintsaar.
Ber-istinsyaq dan ber-istintsaar (menghirup kemudian mengeluarkan atau menyemburkan air dari hidung). “Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka beristintsaarlah tiga kali karena sesunggguhnya syaitan bermalam di rongga hidungnya.” (HR. Bukhari No. 3295 dan Muslim No. 238).
Mencuci Kedua Tangan Tiga Kali.
Mencuci kedua tangan tiga kali, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila salah seorang di antara kamu bangun tidur, janganlah ia memasukkan tangannya ke dalam bejana, sebelum ia mencucinya tiga kali.” (HR. Al-Bukhari No. 162 dan Muslim No.278).
Apabila Gelisah.
Apabila merasa gelisah, risau, merasa takut ketika tidur malam atau merasa kesepian maka dianjurkan sekali baginya untuk berdoa sebagai berikut: “A’udzu bikalimaatillahi attammati min ghadhabihi wa ‘iqaabihi wa syarri ‘ibaadihi wa min hamazaatisysyayaathiin wa ayyahdhuruun.” Yang artinya “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, siksa-Nya, dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dari godaan para syaitan dan dari kedatangan mereka kepadaku.” (HR. Abu Dawud No. 3893, At-Tirmidzi No. 3528 dan lainnya).
Apabila bermimpi buruk.
Jika bermimpi buruk, jangan sekali-kali menceritakannya pada siapapun, kemudian meludah ke kiri tiga kali (diriwayatkan Muslim IV/1772), dan memohon perlindungan kepada Alloh dari godaan syaitan yang terkutuk dan dari keburukan mimpi yang dilihat. (Itu dilakukan sebanyak tiga kali) (diriwayatkan Muslim IV/1772-1773). Hendaknya berpindah posisi tidurnya dari sisi sebelumnya. (diriwayatkan Muslim IV/1773). Atau bangun dan shalat bila mau. (diriwayatkan Muslim IV/1773).

Melindungi Diri Dari Penyakit Menular
Makhluk hidup diciptakan Tuhan dengan kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap ancaman dari luar. Untuk manusia misalnya, salah satu ancaman itu adalah penyakit, terutama penyakit infeksi yang dibawa oleh berbagai macam mikroba seperti virus, bakteri, parasit, jamur. Dari sananya, ternyata tubuh mempunyai cara dan alat untuk mengatasi penyakit sampai batas tertentu. Umpamanya, untuk beberapa jenis penyakit seperti pilek dan batuk, dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan. Dalam hal ini dikatakan bahwa sistem pertahanan atau kekebalan tubuh (sistem imun) orang tersebut cukup baik untuk mengatasi dan mengalahkan kuman-kuman penyakit itu. Tetapi bila kuman penyakit itu ganas, sistem imun (terutama pada anak-anak atau pada orang dewasa dengan daya tahan tubuh yang lemah) tidak mampu mencegah kuman berkembang biak, sehingga dapat mengakibatkan penyakit berat yang membawa kepada cacat atau kematian.
Kata imun berasal dari bahasa Latin immunitas yang berarti pembebasan (kekebalan). Saat itu, istilah ini diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan mereka terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa dan terhadap dakwaan. Dalam sejarah, istilah ini kemudian berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik lagi, terhadap penyakit menular.
Hadist tentang antisipasi wabah penyakit :
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ فِي أَرْضٍ فَلا تَدْخُلُوهَا ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلا تَخْرُجُوا مِنْهَا
Artinya:
“Jika kalian mendengar ada wabah penyakit di suatu daerah maka kalian jangan memasuki daerah tersebut, dan jika wabah tersebut mengenai suatu daerah dan kalian berada di dalamnya maka janganlah kalian keluar dari daerah tersebut.” (HR. Al-Bukhari)
أن أبا هريرة قال : إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ( لا عدوى ) قال أبو سلمة بن عبد الرحمن سمعت أبا هريرة : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال (لَا تُورِدُوا الْمُمْرِض عَلَى الْمُصِحّ)
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a dia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “ la ‘adwa (tidak ada penyakit menular). Abu Salah bin ‘Abdurrahman berkata: ‘Saya mendengar Abu Hurairah berkata’: ‘Dari Nabi SAW bersabda: ”Janganlah kalian campur hewan sakit dengan yang masih sehat.” (HR. Al-Bukhari)
Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh. Kuman disebut antigen. Pada saat pertama kali antigen masuk ke dalam tubuh, maka sebagai reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibodi.
Hadist tentang leburan dosa karena sakit :
أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ (مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا)
Artinya:
‘Aisyah r.a istri Nabi berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada musibah yang mengenai seorang muslim melainkan karena sebab musibah itulah Allah akan melebur dosa-dosanya, sekalipun ia terkena duri.” (HR. Al-Bukhari)
Pada umumnya, reaksi pertama tubuh untuk membentuk antibodi tidak terlalu kuat, karena tubuh belum mempunyai “pengalaman.” Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan seterusnya, tubuh sudah mempunyai memori untuk mengenali antigen tersebut sehingga pembentukan antibodi terjadi dalam waktu yang lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak. Itulah sebabnya, pada beberapa jenis penyakit yang dianggap berbahaya, dilakukan tindakan imunisasi atau vaksinasi. Hal ini dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar tubuh tidak terjangkit penyakit tersebut, atau seandainya terkena pun, tidak akan menimbulkan akibat yang fatal.
Hadist larangan mengharapkan kematian :
عن أنس بن مالك رضي الله عنه : قال النبي صلى الله عليه و سلم : لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ ، اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي ، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي
Artinya:
Dari Anas bin Malik r.a. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Janganlah salah satu diantara kalian mengharap kematian sebab penyakit yang menimpanya. Kalaupun sangat mendesak, maka berdoalah ‘Ya Allah, hidupkanlah hamba jika hidup itu lebih baik bagiku dan matikanlah hamba jika kematian itu baik bagiku.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Melindungi diri dari penyakit menular merupakan sunnah Nabi. Setiap orang tua wajib menjaga anaknya dari serangan penyakit menular seperti kusta, flu burung, dan lain-lain. Sebagaimana yang pernah disabdakan Nabi berikut ini:
“Larilah dari orang yang berpenyakit kusta sebagimana engkau lari dari singa” (H.R. Bukhari)
“Apabila terjadi dalam satu negeri suatu wabah penyakit dan kamu di situ janganlah kamu ke luar meninggalkan negeri itu. Jika terjadi sedang kamu di luar negeri itu janganlah kamu memasukinya.” (HR. Bukhari)
Namun selain menjaga diri dari penyakit menular, ada etika bagi yang memiliki penyakit, yakni tidak boleh mendekati orang yang sehat. Sebab ini ditakutkan dapat menyebabkan orang yang sehat tadi tertular penyakit yag dialaminya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW berikut ini:”Janganlah orang sakit mengunjungi orang sehat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pengobatan Terhadap Penyakit
Jika salah satu anggota keluarga sakit, maka hendaklah bagi anggota keluarga lainnya untuk mencarikan obat yang dapat menyembuhkannya. Sebab tidak mungkin Allah menurunkan sebuah penyakit jika tanpa disertai obatnya. Memang pada hakikatnya yang menyembuhkan adalah Allah swt., namun kesembuhan tersebut bisa terjadi jika melalui perantara, yakni obat. Hal ini sesuai dengan hadits-hadits berikut:
Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kami berobat?” Beliau menjawab, “Ya, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya Allah meletakkan penyakit dan diletakkan pula penyembuhannya, kecuali satu penyakit yaitu penyakit ketuaan (pikun)” (HR. Ashabussunnah)
Allah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya, diketahui oleh yang mengetahui dan tidak akan diketahui oleh orang yang tidak mengerti. (HR. Bukhari dan Muslim)
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Beberapa tanggung jawab yang dipikulkan Islam di atas pundak para pendidik, seperti ayah, ibu dan pengajar, adalah tanggung jawab fisik. Yang demikian itu agar anak-anak tumbuh dewasa dengan kondisi fisik yang kuat dan selamat, sehat bergairah dan bersemangat. Dasar-dasar ilmiah yang digariskan Islam dalam mendidik fisik anak-anak ialah supaya para pendidik dapat mengetahui besarnya tanggung jawab dan amanat yang diserahkan Allah swt.
Setiap orangtua wajib memberikan nafkah kepada anaknya. Dan nafkah yang dimaksudkan ialah yang halal. Orangtua juga diwajibkan mengajarkan etika yang sehat dalam makan, minum, dan tidur, dan tentunya sesuai dengan ajaran Islam. Tidak hanya itu, orangtua juga bertanggung jawab atas diri si anak. Orangtua hendaknya selalu memberikan perlindungan kepada anak, baik itu penyakit maupun hal-hal yang dapat membahayakan jiwa keluarga. Jika anggota keluarga ada yang sakit, maka wajib bagi orangtua mengobatkannya. Selain itu, salah satu cara memberikan pendidikan terhadap anak ialah dengan mengajarkan anak untuk membiasakan berolah raga ketangkasan dan memberikan sikap yang tegas jika ada anggota keluarga yang melanggar aturan.

Saran-saran
Manusia sebagai makhluk pribadi, sosial, susila dan religi harus dikembangkan secara seimbang, selaras dan serasi. Perlu disadari, bahwa manusia hanya mempunyai arti hidup secara layak jika ada diantara manusia lainnya. Untuk itu sebagai orang tua harus bertanggung jawab dan memberikan pendidikan fisik terhadap keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan terjemahnya, Kementrian Agama, Jakarta, 1971.
Abu Zakarya Yahya, Terjemah Riyadhush Shalihin jilid II, Al-Hidayah, Surabaya, 1997.
Moh. Saifullah Al Aziz, Fiqih Islam Lengkap, Terbit Terang, Surabaya, 2005.

http://lenteratungkal.blogspot.com/2010/12/tanggung-jawab-orang-tuaterhadap.html

http://www.al-kauny.com/index.php?option=com_k2&view=item&id=470:hadits-keutamaan-memberi-nafkah-kepada-keluarga

http://muhfachrizal.blogspot.com/2011/07/adab-tidur-dalam-islam-sesuai-ajaran.html

Makalah SPI “Wali Songo”

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Islam tersebar keseluruh penjuru dunia dengan cepat. Dalam waktu ± 23 tahun, islam sudah tersebar ke seluruh jazirah arabia berkat dakwah nabi Muhammad SAW. Cepatnya penyebaran islam itu tidak berarti bahwa dakwah yang dilakukkan nabi berjalan mulus begitu saja. Banyak halangan dan rintangan berat yang dihadapi beliau dari kaum kafir Quraisy.
Semenjak Rasulullah meninggal, banyak sahabat beliau yang melanjutkan dakwah dan menyebarkan agama islamke seluruh penjuru dunia.
Begitupun di Indonesia, agama Islam masuk melalui perdagangan oleh pedagang asal India. Sejak saat itulah bermunculan para ulama besaryang menyebarkan Islam ke seluruh nusantara. Salah satunya adalah Wali songo.
Para ulama, juru dakwah, atau mubaligh yang pantas dijadikan contoh amar ma’ruf-nahi munkar di tanah Jawa adalah Wali Songo. Mereka adalah orang yang berhasil menyebarluaskan Islam baik di lingkungan pesantren, penguasa kerajaan, maupun orang biasa.
Oleh karena itu, untuk mengetahui bagaimana peran Wali Songo dalam peradaban Islam di Indonesia perlu diadakan pembahasan mengenai hal itu.

Tujuan Penulisan
1. Mengetahui dengan jelas peranan Wali Songo dalam peradaban Islam di Indonesia.
2. Memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Islam.

BAB II
PEMBAHASAN

Peranan Wali Songo dalam Peradaban Islam di Indonesia.
Ada sembilan ulama yang sangat berjasa dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Mereka dikenal dengan sebutan “Wali Songo”
Wali Songo mengambangkan agama Islam menjelang dan setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, atau sekitar abad ke-14 sampai abad ke-16. Dalam Babad Tanah Jawi dikatakan bahwa dalam berdakwah, para Wali ini dianggap sebagai kepala kelompok mubaligh untuk daerah penyiaran tertentu.
Selain dikenal sebagai ulama, mereka juga berpengaruh besar dalam kehidupan politik pemerintahan. Karena itu, mereka diberi gelar “Sunan” (Susuhunan; junjungan) gelar yang biasa digunakan untuk para raja di Jawa.

1. Wali Songo dan Dakwah Islam
Dalam menyiarkan Islam, Wali Songo tidak hanya akrab dengan masyarakat umum, tetapi juga dengan penguasa kerajaan. Ketika menyiarkan Islam, mereka menggunakan berbagai bentuk kesenian tradisional masyarakat setempat. Mereka menyisipkan nilai-nilai Islam ke dalam kesenian tersebut. Karena itu, upaya mereka terasa tidak asing dan sangat komunikatif bagi masyarakat setempat. Usaha ini membuahkan hasil, tidak hanya mengembangkan agama Islam, tetapi juga memperkaya kandungan budaya Islam.
Syiekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik
Beliau juga dikenal dengan sebutan syiekh Magribi, karena ia diduga berasal dari wilayah Magribi (afrika Utara). Namun, hingga saat ini tidak diketahui secara pasti sejarah tentang tempat dan tahun kelahirannya. Ia diperkirakan lahir sekitar pertengahan abad ke-14. Ia berasal dari keluarga muslim yang taat, dan belajar agama sejak kecil. Meskipun demikian, tidak diketahui siapa gurunya hingga ia kemudian mejadi seorang ulama.
Sunan Gresik merupakan pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa. Ia berdakwah secara intensif dan bijaksana. Sunan Gresik bukanlah orang Jawa, tetapi ia mampu beradaftasi dengan masyarakat setempat. Upayanya untuk menghilangkan sisitem kasta pada masyarakat pada masa itu merupakan dakwahnya. Namun sumber lain mengatakan bahwa jauh sebelum Sunan Gresik datang ke Pulau Jawa, sudah ada masyarakat Islam di daerah Jepara dan Leran.
Cita-cita dan perjuangannya menyebarkan Islam di Jawa dilanjutkan oleh anaknya, Sunan Ampel.

Sunan Ampel
Ia memulai dakwahnya dari sebuah pesantren yang didirikan di Ampal Denta (dekat Surabaya). Oleh karena itu, ia dikenal sebagai pemimbina pondok pesantren pertama di jawa Timur.
Suna Ampel merupakan putera dari Sunan Gresik yang meneruskan perjuangan Sunan Gresik menyiarkan Islam di tanah Jawa. Ia dikenal dengan Wali yang tidak setuju terhadap adat-istiadat masyarakat Jawa pada masa itu. Misalnya, kebiasaan mengadakan sesaji dan selamatan. Namun para wali lain berpendapat bahwa hal itu tidak dapat dihilangkan dengan segera. Mereka mengusulkan agar adat-istiadat semacam itu lebih baik diberi warna islami. Akhirnya, Sunan Ampel setuju walaupun ia tetap khawatir kalau hal itu akan berkembang menjadi Bid’ah.
Ajaran Sunan Ampel yang terkenal adalah “Falsafah Moh Limo” atau “tidak Mau Melakukan Lima Hal”.
1. Moh Main atau Tidak mau berjudi.
2. Moh Ngombe atau Tidak minum-minuman keras (mabuk-mabukan)
3. Moh Maling atau Tidak mencuri.
4. Moh Madat atau tidak mau menghisap candu, ganja, dan lain-lain.
5. Moh Madon atau Tidak berzina.

Sunan Giri
Nama aslinya adalah Raden Paku. Ia merupakan putra dari Maulan Ishak. Ia sempat diadopsi oleh Nyai Ageng Pinatih ketika masih bayi dan sempat diberi nama joko Samudro; karena Raden Paku ditemukan di tengah Selat Bali.
Sunan Giri sempat mondok di Pesantren Ampel Denta milik Sunan Ampel sebelum memperdalam ilmu di Pasai, tempat Maulana Ishak menyiarkan Islam.
Sekembalinya ke tanah Jawa, Sunan Giri mendirikan pesantren di daerah Giri. Ia juga banyak mengirim juru dakwah ke Bawean, bahkan juga ke Lombok, Ternate dan Tidore di Maluku.

Sunan Bonang
Cara penyebarannya ialah menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang menggemari Wayang dan Musik Gamelan. Untuk itu, menciptakan gendang-gending yang memiliki corak keislaman.
Sunan Bonang yang bernama asli Syiekh Maulana Makdum Ibrahim ini pernah belajar agama di Pesantren Ampel Denta dan di Pasai bersam Sunan Giri. Sekembalinya dari Pasai, ia memutuskan untuk memusatkan kegiatan dakwahnya di Tuban dengan mendirikan Pesantren. Ia wafat di Tuban pada tahun 1525.

Sunan Kalijaga
Ia dikenal sebagai budayawan dan seniman. Nama aslinya adalah Raden Said putra Adipati Tuban yaitu Temenggung Wilatikto. Ia menciptakan anaka cerita wayang yang bernafaskan islami. Ia juga menciptakan wayang kulit dan wayang beber. Dan ia juga pencipta dari lagu daerah Jawa yang berjudul Lir-Ilir.
Sebelum mempelajari agama islam lebih dalam, ia adalah seorang perampok. Namun yang ia rampok bukanlah rakyat jelata, melainkan para penarik pajak yang meminta pajak dengan kekerasan dan sangat mencekik kehidupan masyarakat setempat. Ia pun sempat diusir dari Tuban, dan pergi ke hutan Jatiwangi. Di sana ia dikenal dengan sebutan Brandal Lokajaya.
Ia mendapat gelar sunan Kalijaga karena ia sempat disuruh menjaga sungai (bertapa) selama tiga tahun. Ia adalah murid dari Sunan Bonang. Ia juga menciptakan berbagai macam alat musik seperti Gamelan dan Bedug untuk media dakwahnya.

Sunan Kudus
Ia adalah putra dari Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung dari Jipang Panolan. Untuk melancarkan penyebaran islam, Sunan Kudus membangun sebuah masjid di daerah Loran pada tahun 1549 M. Masjid itu diberi nama Masjid Al-Aqsa atau Al-Manar. Wilayah di sekitarnya disebut Kudus, merupakan nama yang diambil dari dari nama Kota al-Quds (Yarusalem) di Palestina, yang pernah ia kunjungi. Masjid itu kemudian dikenal dengan nama Masjid Menara Kudus karena di sampingnya terdapat menara tempat duduk masjid.
Sunan Kudus atau Ja’far sadiq digelari wali al-‘ilmi (orang berilmu luas) oleh para wali songo karena memiliki keahlian khusus dalam bidang agama. Karena keahlian nya itu, ia banyak didatangi para penuntut ilmu dari berbagai wilayah. Ia juga dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan di daerah Kudus. Karenanya, ia menjadi pemimpin agama sekaligus menjadi pemimpin daerah.
Ia berdakwah menggunakan strategi pendekatan pada masyarakat setempat. Ia membiarkan duklu adat-istiadat dan kepercayaan masyarakat setempat yang sulit dirubah, namun bagian adat yang tidak sesuai islam tetapi mudah dirubah maka segea dihilangkan. Ia menghindari konfrontasi secara langsung dalam menyiarkan islam. Strategi dakwah ini juga diterapkan oleh Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati.

Sunan Drajad
Nama aslinya adalah Raden Qosim. Ia merupakan putra dari Sunan Ampel dan Dewi Condrowati. Dalam catatan sejarah Wali Songo, Raden Qosim disebut dengan seorang wali yang hidupnya paling bersahaja, walaupun dalam urusan dunia ia juga sangat rajin mencari rezki.
Adapun ajaran Sunan Drajad yang terkenal adalah
Menehono teken marang wong kang wuto.
Menehono mangan marang wong kang luwe.
Menehono busono marang kang mudo.
Menehono ngiyup marang wong kang kudanan.
Terjemahannya sebagai berikut:
Berikanlah tongkat pada orang buta.
Berikanlah makanan pada orang yang lapar.
Berikanlah pakaian pada orang yang telanjang.
Berikanlah tempat berteduh pada orang yang kehujanan.
Ia berdakwah di daerah Drajad dan meninggal di daerah itu juga. Makamnya berada di desa Drajad, kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.
Sunan Muria
Nama aslinya adalah Raden Umar Syaid. Ia adalah putera sunan Kalijaga dan Dewi Saroh. Ia dikenal sebagai seorang anggota Wali Songo yang mempertahankan kesenian Gamelan sebagai media dakwah yang ampuh untuk merangkul masyarakat Jawa.
Selain dengan kesenian, ia juga berdakwah dengan cara memadukan adat setempat dengan warna islami. Adapun adat setempat yang dipadukan dengan warna islami adalah sebagai berikut:
Selamatan ngesur tanah (kenduren setelah ngubur nayat)
Nelung dinani (kenduren setelah 3 hari mengubur mayat)
Mitung dinani (kenduren setelah 7 hari ngubur mayat)
Matang puluh, nyatus dino, Mendhak pisan, mendhak pindo, dan nyewu.

Sunan Gunung Jati
Nama aslinya adalah Syarif Hidayatullah. Pada usia 20 tahun dia berguru pada Syiekh di daratan Timur Tengah. Aetelah selesai menuntut ilmu, pada tahun 1470 dia berangkat ke tanah Jawa untuk mengamalkan ilmunya. Istrinya yang pertama adalah Nyai Babadan, wanita itu dinikahi pada tahun 1471. Dia adalah putri dari Ki Gedeng Babadan.
Perkawinannya dengan Nyai Babadan ini tidak dikaruniai seorang anak pun, lalu pada tahun 1475, ia kawin lagi dengan Nyai Kawungten, adik dari Bupati Banten.
Ia sempat menikah dengan Syarifah Baghdad, yang merupakan adik dari Syiekh Abdurrahman. Namun dari sekian banyak istrinya, Sunan Gunung Jati pernah menikah dengan putri cantik dari daratan Cina, Ong Tien.
Sekitar tahun 1479, ia pergi ke Cina. Di sana ia membuka pengobatan sambil berdakwah. Ia mendapat gelar Maulana Insanul Kamil.

2. Model Penyebaran Islam Wali Songo
Secara umum Wali Songo menyiarkan Islam dengan memadukan budaya setempat sebagai media dakwah. Mereka membiarkan budaya dan kepercayaan masyarakat setempat yang sulit dirubah. Namun bagian adat yang mudah dirubah, maka dengan segera mereka menghilangkannya. Mereka melakukannya karena menghindari konfrontasi dengan masyarakat secara langsung. Dan tentunya mereka melakukan hal itu agar mudah berkomunikasi dengan masyarakat, dengan cara itu masyarakat bisa dengan mudah menerima mereka dan mengamalkan apa yang diajarkan.
Anggota Wali Songo yang memakai cara  pendekatan itu adalah Sunan Kali Jaga, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati. Sunan Kali Jaga malah membiarkan masyarakat membakar kemenyan, dan ia juga sempat menciptakan alat musik berupa Gamelan.
Memang pada dasarnya hal ini termasuk Bid’ah, namun jika tidak dengan cara ini masyarakat sangat sulit untuk didekati.
3. Kemjuan Islam Periode wali Songo
Selama menyiarkan agama Islam, Wali Songo banyak mengalami hambatan. Ada fitnah, dan budaya setempat yang sulit dirubah. Namun dengan kesabaran dan tekat yang kuat, akhirnya sebagian masyarakat Jawa masuk Islam meskipun tidak sedikit yang melakukan bid’ah. Hal itu bagi Wali Songo bukanlah masalah besar. Dan mereka meyakini suatu saat nanti akan ada orang yang dapat menghilangkan budaya masyarakat setempat yang tertmasuk bid’ah.
Permasalahan yang cukup terkenal sampai saat ini mengenai wali Songo adalah perkara Syiekh siti Jenar. Ia adalah seorang ahli agama dari Persia. Ia mengaku dirinya adalah Allah. Para wali sangat menentangnya, dan memutuskan hukuman mati bagi syiekh siti Jenar. Meskipun Syiekh Siti Jenar mati, namun ajarannya tetap menyebar. Bahkan ia sempat mempunyai banyak murid. Sebelum Syiekh Siti Jenar dihukum mati, ia sempat mengeluarkan ancaman kepada para Wali. Dan ancaman itu pun benar terjadi, di Mataram 6000 ulama Sunni dibantai oleh Sunan Amangkurat I.
Pertentangan antara faham Manunggaling Kawula Gusti memang terus berlangsung. Para pendukung siti Jenar tetap berusaha mendiskreditkan para Wali, bahkan hingga zaman modern ini.Namun di balik itu semua, usaha Wali Songo dalam menyiarkan agama Islam membuahkan hasil yang luar biasa, hingga dapat kita rasakan sampai saat ini.
Masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia memengaruhi kebudayaan Islam bangsa Indonesia. Akulturasi dengan budaya sebelumnya membuat budaya islam makin diminati masyarakat. Dan salah satu dampak yang muncul adalah berdirinya kerajaan-kerajaan yang bercorak islam, antara lain Kerajaan Samudera Pasai, Aceh, Demak, Pajang, Mataram Islam, Cirebon, Banten, Makasar, Ternate, dan Tidore.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Wali Songo adalah kelompok ulama yang brejumlah sembilan orang. Mereka menyiarkan agama Islam di tanah Jawa. Selain itu, mereka juga berpengaruh besar dalam kehidupan politik pemerintahan.
Adapun nama-nama Wali Songo tersebut ialah sebagai berikut:
Syiekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik
Sunan Ampel
Sunan Giri
Sunan Bonang
Sunan Kalijag
Sunan Kudus
Sunan Drajad
Sunan Muria
Sunan Gunung Jati
Dalam menyiarkan Islam mereka menggunakan kesenian dan budaya masyarakat setempat. Sehingga masyarakat merasa tidak asing dan lebih komunikatif. Usaha ini membuahkan hasil, tidak hanya mengembangkan budaya Islam, tetapi juga memperkaya kandungan budaya Jawa.

Saran-saran
Saran yang kami sampaikan ialah sebagai berikut:
Dengan mengetahui sejarah singkat Wali Songo, mari kita bersama-sama meningkatkan iman dan taqwa kepa Allah SWT.
Setelah mengetahui cara Wali Songo menyebarkan islam pada umat islam terdahulu, marilah kita juga menyiarkan agama islam dengan cara yang disenangi oleh masyarakat zaman sekarang.

Daftar Pustaka
Asnan Wahyudi dan Abu Khalid, Kisah Wali Songo, Surabaya, Karya Ilmu,-
M. B. Rahimsyah. AR., Sejarah Wali 9, Tuban, Yayasan Amanah,-

Makalah Ushul Fiqh “Keyakinan Tidak Hilang Karena Keraguan”

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Keyakinan dapat diartikan sebagai suatu kepastian atau prasangka yang kuat terhadap sesuatu hal yang dikerjakan, dan keraguan hanya semata-mata kebimbangan tentang apakah prasangkanya sama kuat atau ada yang lebih kuat.
Dalam kehidupan sehari-hari ada saja peristiwa yang dialami oleh umat mengenai keragu-raguan dalam menjalankan suatu perkara. Misalnya dikala kita menemukan bangkai dalam sumur yang biasa dipakai untuk bersuci dari hadas. Sejak peristiwa penemuan bangkai tersebut terkadang kita ragu apakah bersuci yang selama ini kita lakukan itu sah atau tidak. Oleh karena itu, dengan melihat kejadian tersebut penyusun merasa perlu untuk membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa keyakinan dan keragu-raguan dari setiap perbuatan yang dilakukan.
Menurut hemat penulis, yang sesuai dengan peristiwa tersebut ialah kaidah yang berkenaan dengan keyakinan dan keraguan yaitu “al Yaqinu la yuzalu bi syakk”. Kaidah ini sangat penting untuk dipelajari, karena menurut Imam As-Suyuthi, kaidah ini mencakup semua pembahasan dalam masalah fiqih dan masalah-masalah yang berkaitan dengannya mencapai 3/4 dari subyek pembahasan fiqih.
Imam Al-Qorafi menambahkan, dalam kaidah ini seluruh umat sudah bersepakat dalam mengamalkannya dan kita harus selalu mempelajarinya. Kemudian Imam Daqiq Al-‘Id mengisyaratkan pada setiap umat Islam untuk mengerjakan sesuatu yang sudah pasti dan membuang keragu-raguan, sehingga seakan-akan para ulama telah sepakat tentang keberadaan kaidah ini, akan tetapi mereka tidak bersepakat dalam prosedur tata laksana kaidah ini.
Kaidah ini menghantarkan kepada kita kepada konsep kemudahan demi menghilangkan yang kadang kala menimpa kita, dengan cara menetapkan sebuah kepastian hukum dengan menolak keragu-raguan. Sebab telah kita ketahui bersama, keragu-raguan adalah beban dan kesulitan, maka kita diperintahkan untuk mengetahui hukum secara benar dan pasti sehingga terasa mudah dan ringan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, termasuk di dalamnya adalah aqidah dan ibadah.

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan disusunnya makalah ini ialah untuk mendeskripsikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keyakina dan keraguan, yakni:
Kaidah fiqh tentang keyakinan dan keraguan
Dasar-dasar Kaidah tentang keyakinan dan keraguan; serta,
Kaidah-kaidah lanjutannya.

BAB II
PEMBAHASAN

Kaidah Fiqh Tentang Keyakinan dan Keraguan
Keyakinan dan keraguan merupakan dua hal yang berbeda, bahkan bisa dikatakan saling berlawanan. Hanya saja, besarnya keyakinan dan keraguan akan bervariasi tergantung lemah-kuatnya tarikan yang satu dangan yang lain. Kaidah yang berkaitan dengan hal ini ialah:
اَلْيَقِيْنُ لاَ يُزَالُ باِلشَّكِّ
“Keyakinan tidak dapat dihapus dengan keraguan.”

Dasar-dasar Kaidah
Kaidah tentang keyakinan dan keraguan berdasarkan kepada beberapa buah hadits. Antara lain hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW. bersabda:

اِذَاوَجَدَأَحَدُكُمْ فِى بَطْنِه شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْئٌ أَمْ لاَ, لاَ يَخْرُجَّنَ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْيَجِدَ رِيْحًا
Artinya: “Apabila salah seorang dari kamu mendapatkan sesuatu di dalam perutnya, lalu timbul keraguan apakah sesuatu itu keluar dari perut atau tidak, maka janganlah keluar dari mesjid, sehingga ia mendengar suaranya atau mencium baunya.”

Hadits di atas menunjukkan adanya keraguan bagi yang sedang sahalat atau menunggu (duduk di masjid) untuk melaksanakan shalat berjamaah.  Secara logika, orang tersebut dalam keadaan suci (sudah berwudhu). Dan orang tersebut ragu-ragu apakah ia telah mengeluarkan angin atau tidak, maka ia harus dianggap masih dalam keadaan suci. Karena keadaan inilah yang sudah meyakinkan tentang kesuciannya sejak semula, sedang keraguanya baru timbul kemudian. Oleh karena itu, orang tersebut tidak perlu berwudhu lagi sebelum mendapatkan bukti berupa bunyi atau baunya.
Dan sabda Rasulullah di lain tempat berbunyi:

إِذَاشَكَّ أَحَدُ كُمْ فِىْ صَلاَ تِهِ فَلَمْ يَدْرِكَمْ صَلَّى أَثَلاَ ثًا أَمْ أَرْبَعَةً فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلىَ مَا اسْتَيْقَنَ.
Artinya: “Apabila salah seorang kamu meragukan shalatnya, lalu ia tidak mengetahui berapa raka’at yang telah dikerjakan, tiga atau empat, maka hendaklah dilempar yag meragukan itu dan dibinalah menurut apa yang diyakinkan.” (HR. Muslim)

Hadits tersebut memberi isyarat bahwa dua buah hitungan yag diragukan mana yang benar, agar ditetapkan hitungan yang terkecillah yang memberikan keyakinan. Sebab dalam menghitung sebelum sampai ke hitungan yang besar pastilah melalui hitungan yang lebih kecil terlebih dahulu, karena yang kecil (sedikit) itulah yang sudah meyakinkan.
Dalil ‘aqli (akal) bagi kaidah keyakinan dan keraguan adalah bahwa keyakinan lebih kuat dari pada keraguan, karena dalam keyakinan terdapat hukum qath’i yang meyakinkan. Atas dasar petimbangan itulah bisa dikatakan bahwa keyakinan tidak boleh dirusak oleh keraguan.

Kaidah-kaidah Lanjutan
Muhammad Shidqi Ibn Ahmad al-Burnu menjelaskan bahwa kaidah al-yaqin la yazalu bi al-syak adalah bersumber dari Abu Hanifah. Zaid al-Dabusi dalam kitab Ta’sis al-Nazhar menyatakan bahwa:

الاصل عند ابي حنيفة انه متى عرف ثبوت الشيء من طريق الا حا طة وتيقن لا ي معنى كان فهو على ذلك مالم يتيقن بخلافه.
“Menurut Abu Hanifah, sesuatu yang ditetapkan dengan cara penelitian dari segala segi dan meyakinkan dari seluruh seginya, hukumnya ditetapkan berdasarkan penelitian tersebut sebelum terdapat bukti kuat yang mengingkarinya.”

Berikut ini merupakan kaidah lanjutan dari kaidah induk di atas:
Kaidah pertama:
اَلْأَصْلُ بَقَآءُ مَا كاَنَ عَلى مَا كَا نَ.
“Menurut dasar yang asli memberlakukan keadaan semula atas keadaan yang ada sekarang.”

Penjelasan:
Sesuatu yang hukumnya ditetapkan pada masa lalu – dibolehkan atau dilarang – tetap pada ketetapan tersebut dan tidak berubah sebelum ada dalil yang merubahnya.
Contohnya:
Orang yang yakin telah bersuci dan ragu tentag hadas yang menimpanya, maka dia masih dalam keadaan suci.
Orang yang yakin bahwa ia berhadas, dan ragu tentang keabsahan bersuci yang telah ia lakukan, maka ia masih berhadas.
Seseorang yang makan sahur di akhir malam dengan dicekam rasa ragu-ragu, jangan-janga waktu fajar sudah tiba. Maka puasa orang tadi tetap sah, sebab menurut dasar yang asli diberlakukan keadaan waktunya masih malam, dan bukan waktu fajar.

Kaidah kedua:
اَلْأَصْلُ بَرَاءَةُالذِّمَةِ.
“Pada dasarnya, orang bebas beban.”

Contohnya:
Jika ada dua orang bertengkar tentang harga barang yang dirusakkan, maka dimenangkan oleh orang yang merasa dirugikan. Sebab menurut asalnya ia tidak dibebani tanggungan tambahan.
Terdakwa yang menolak angkat sumpah tidak dapat diterapkan hukuman. Karena menurut asalnya ia bebas dari tanggungan dan yang harus angkat sumpah ialah si pendakwa.

Kiadah Ketiga:
اَلْأَصْلُ الْعَدَ مَ.
“Dasar sesuatu adalah ketidak adaan.”

Contohnya:
Seseorang mengaku telah berhutang kepada orang lain berdasarkan atas pengakuannya sendiri atau suatu bukti yang otentik. Tiba-tiba orang yang berhutang mengaku telah membayarnya hingga ia merasa bebas dari pembayaran. Sedang orang yang menghutangkan mengingkari atas pengakuan tersebut.
Dalam perselisihan ini sesuai dengan kaidah yang telah lalu dimenangkan oleh pengingkaran orang yang menghutangi. Sebab menurut asalnya belum adanya pembayaran hutang dan ini merupakan hal yang sudah meyakinkan, sedaang pengakuan telah membayar merupakan hal yang masih diragukan.

Seorang pemakan harta milik orang lain bertengkar dengan pemilik. Pemakan harta mengatakan bahwa orang yang memiliki sudah mengizinkannya. Sedang pemiliknya tidak merasa telah memberikan izin bahkan mengingkarinya.
Penyelesaian pertengkaran ini sudah barang tentu harus ddimenangkan oleh pemilik harta, karena menurut asalnya memakan harta milik orang lain itu tidak dibenarkan.

Kaidah Keempat:
اَلْأَصْلُ فِى الْأَشْيَاءِ اَلْإِبَا حَةُ حَتَّى يَدُ لَّ الدَّ لِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ.
“Asal sesuatu adalah boleh, sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya.”

Kaidah ini bersumber dari sabda Rasulullah yang artinya sebagai berikut:
“Apa-apa yang dihalalkan Allah adalah halal dan apa-apa yang diharamkan Allah adalah haram, dan apa-apa yang didiamkan dimaafkan. Maka terimalah dari Allah pemaafan-Nya. Sungguh Allah tidak melupakan sesuatu pun.” (HR. Al-Bazar dan at-Thabrani).

Kandungan hadits ini ini ialah bahwa segala sesuatu yang belum ditunjuk oleh dalil yang tegas tentang halal dan haramnya, maka hendaklah dikembalikan kepada ketentuan aslinya, yaitu mubah.
Contohnya:
Segala macam binatang yang sukar untuk ditentukan keharamannya lantaran tidak didapatkan sifat-sifatnya ciri-ciri yang dapat diklasifikasikan kepada haram, maka halal dimakan. Seperti binatang Jerapah merupakan binatang yang halal dimakan, karena tidak memiliki sifat-sifat atau ciri-ciri yang mengharamkannya (bertaring lagi buas).

Kaidah Kelima:
اَلْأَصْلُ فِى كُلِّ حَا دِ ثٍ تَكْدِيْرُهُ بِأَقْرَبِ زَمَنِه.
“Asal dari suatu kejadian ditentukan lebih dekat dengan kejadiannya.”

Contohnya:
Seseorang mengambil air wudhu untuk shalat dari suatu sumur. Beberapa hari kemudian diketahuinya bahwa di dalam sumur tersebut terdapat bangkai tikus, sehingga menimbulkan keragu-raguannya perihal wudhu dan shalat yang telah dikerjakan beberapa hari yag lalu. Dalam masalah yang demikian itu ia tidak wajib mengqadha shalat yang sudah dikerjakannya.
Masa yang terdekat sejak dari peristiwa diketahuinya bangkai tikus itulah yang dijadikan titik tolak untuk menetapkan kenajisan air yang mengakibatkan tidak sahnya shalat dan keharusan mengqadhanya. Kecuali kalau ia yakin bahwa bangkai itu sudah lama berada di dalam sumur sebelum ia melakukan shalat atas adanya bukti-bukti yang meyakinkan. Jika demikian air yang dipergunakan wudhu itu adalah air mutanajis, hingga shalat yang telah ia kerjakan harus ia qadha.

Kaidah Keenam:
مَنْ شَكَّ أَفَعَلَ شَيْئًا أَمْ لا فَاْ لأَ صْلُ أَنَّهُ لَمْ يَفْعَلْهُ.
“Orang yang ragu apakah dia telah melakukan sesuatu atau belum, maka pada dasarnya dia belum mengerjakannya.”

Contohnya:
Seseorang ragu-ragu sewaktu mengerjakan shalat apakah ia mengerjakan i’tidal atau tidak, maka ia harus mengulang mengerjakannya. Sebab ia dianggap seolah-olah tidak megerjakannya.

Kaidah Ketujuh:
Kaidah ini sejenis denga kaidah yang keenam.

مَنْ تَيَقَّنَ الْفِعْلَ وَشَكَّ فِى الْقَلِيْلِ أَوِالْكَثِيْرَ حُمِّلَ عَلَى الْقَلِيْلِ.
“Barang siapa meyakinkan berbuat dan meragukan tentang banyak atau sedikitnya, maka dibawanya kepada yang sedikit.”

Contohnya:
Debitur yang berkewajiban mengangsur uang yang telah disepakati bersama kreditur merasa ragu apakah angsuran yang telah dikerjakan itu 4 kali atau 5 kali, maka dianggap baru mengangsur 4 kali. Karena yang sedikit itulah yang sudah diyakini.

Kaidah Kedelapan:
اَلْأَ صْلُ فِيْ الْكَلاَمِ الْحَقِيْقَةُ.
“Menurut dasar yang asli dalam pembicaraan adalah yang hakiki.”

Kaidah ini menetapkan apabila terjadi sesuatu perselisihan dalam menafsirkan atau mengartikan suatu rangkaian kalimat yang memungkinkan untuk diartikan menurut arti hakikat dan majaz, maka yang dijadikan pedoman ialah penafsiran menurut arti hakikat lafazh itu sendiri.
Contohnya:
Seseorang bersumpah tidak akan menjual atau membeli sesuatu barang. Kemudian ia mewakilkan kepada orang lain untuk menjual atau membeli sesuatu. Perbuatan semacam itu tidak dapat dikatakan melanggar sumpah, karena tidak bertentangan dengan arti hakikat lafazh itu sendiri.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Keyakinan dan keraguan merupakan dua hal yang berbeda, bahkan bisa dikatakan saling berlawanan. Hanya saja, besarnya keyakinan dan keraguan akan bervariasi tergantung lemah-kuatnya tarikan yang satu dangan yang lain.
Dalil ‘aqli (akal) bagi kaidah keyakinan dan keraguan adalah bahwa keyakinan lebih kuat dari pada keraguan, karena dalam keyakinan terdapat hukum qath’i yang meyakinkan. Atas dasar petimbangan itulah bisa dikatakan bahwa keyakinan tidak boleh dirusak oleh keraguan.

Saran
Sebagai hamba Allah yang beriman dan bertaqwa, marilah kita bersama-sama mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan menjalankan syariat-Nya. Dan marilah kita hindari hal-hal yang meragukan, sebab hal yang meragukan hanya akan menjadi penghalang bagi kita untuk menjalankan syariatnya. Dan tetaplah konsisten dengan pendirian yang meyakinkan hati.

DAFTAR PUSTAKA

Asjmuni A. Rahman, Kaidah-kaidah Fiqih (Qawai’idul Fiqhiyyah), Jakarta: Bulan Bintang, 1976.
Jaih Mubarok, Kaidah Fiqh: Sejarah dan Kidah Asasi, Jakarta: Rajawali Pers, 2002.
Mun’im A. Sirry, Sejarah Fiqih Islam: Sebuah Pengantar, Surabaya: Risalah Gusti, 1995.