Makalah Hadits Tarbawy “Tanggung Jawab Pendidikan Fisik”

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Perlu disadari bahwa keluarga merupakan tempat pendidikan pertama dan utama bagi seseorang, dan orang tua sebagai kuncinya. Pendidikan dalam keluarga berperan dalam pengembangan watak, kepribadian, nilai-nilai budaya, nilai-nilai keagamaan dan moral, serta keterampilan sederhana. Pendidikan dalam konteks ini mempunyai arti pembudayaan, yaitu proses sosialisasi dan enkulturasi secara berkelanjutan dengan tujuan untuk mengantar anak agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak luhur, tangguh mandiri, kreatif, inovatif, beretos kerja, setia kawan, peduli akan lingkungan dan sebagaianya.
Islam menempatkan suatu beban tangung jawab pada pundak setiap orang, di mana tak seorang pun bebas dari padanya. Orang tua bertanggung jawab memberikan kepada anak-anaknya suatu pendidikan dan ajaran Islam yang tegas, yang didasarkan atas karakteristik yang mulia sebagaimana disebutkan Nabi, bahwa beliau di utus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Melihat hal tersebut tidak ada bukti yang kuat mengenai beratnya tanggung jawab orang tua untuk membawa anak mereka mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian jelas bahwa orang tua (keluarga) bertanggung jawab atas perlindungan anaknya dari berbagai persoalan, baik yang berhubungan dengan persoalan dunia maupun akhirat.
Namun semua itu akan lebih mudah dengan adanya pendidikan yang benar terhadap fisiknya. Apabila fisik anak sudah dididik dengan maksimal, mudah sekali bagi anak untuk memahami arti dari akhlak itu sendiri. Misalnya makanan, merupakan pokok utama yang mengisi tubuh anak. Anak akan bertumbuh sesuai apa yang ia makan. Apabila ia memakan makanan halal, maka akan mudah baginya untuk menerima berbagai macam nasihat dan ilmu-ilmu yang bermanfaat, serta bisa mengamalkan perbuatan mulia dalam hidupnya. Tetapi, apabila anak diberi makanan yang haram, maka anak tersebut akan tumbuh dan berkembang dengan moral yang rendah, bahkan bisa dikatakan hancur.
Oleh karena itu, penting sekali bagi setiap orang tua (keluarga) bisa memberikan kebiasaan-kebiasaan positif dan tentunya halal bagi pertumbuhan anak, dari kecil hingga dewasa, demi keberlangsungan kehidupannya kelak.

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan disusunnya makalah ini ialah untuk mendeskripsikan tentang pentingnya peranan orang tua terhadap tanggung jawab pendidikan fisk dalam keluarga, berupa:
Kewajiban memberi nafkah kepada keluarga dan anak.
Mengikuti aturan-aturan yang sehat dalam makan, minum, dan tidur.
Meindungi diri dari penyakit menular.
Pengobatan terhadap penyakit.
Membiasakan anak berolah raga ketangkasan dan bersikap tegas.

Metode Penulisan
Penulis hanya menggunakan metode Browsing Network dan kepustakaan dalam pembuatan makalah ini. Dalam metode ini penulis menelusuri internet untuk mencari pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan pokok bahasan yang telah ditentukan dan membaca buku-buku yang relevan.

BAB II
PEMBAHASAN

Beberapa tanggung jawab yang dipikulkan Islam di atas pundak para pendidik, seperti ayah, ibu dan pengajar, adalah tanggung jawab fisik. Yang demikian itu agar anak-anak tumbuh dewasa dengan kondisi fisik yang kuat dan selamat, sehat bergairah dan bersemangat. Dasar-dasar ilmiah yang digariskan Islam dalam mendidik fisik anak-anak ialah supaya para pendidik dapat mengetahui besarnya tanggung jawab dan amanat yang diserahkan Allah swt.

Kewajiban Memberi Nafkah Kepada Keluarga dan Anak
Memberi nafkah merupakan kewajiban bagi orang tua, khususnya ayah, selaku pemimpin dalam keluarga. Sesuai dengan perintah Allah dalam Q.S. al-Israa’ ayat 26:


Artinya: “ Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya…”

Namun nafkah yang dimaksudkan ialah nafkah yang baik dan tentunya halal. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 233:

Artinya: “…Dan kewajiban ayah untuk memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik…”

Memberi nafkah kepada keluarga merupakan kewajiban dan diganjar dengan pahala, sesuai dengan hadits berikut:
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهِيَ لَهُ صَدَقَةٌ
Dari Ibnu Mas’ud RA dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Apabila seseorang memberi nafkah untuk keluarganya dengan niat mengharap pahala maka baginya (pahala) sedekah.” (HR. Bukhari)
Penjelasan hadits:
1. Nafkah yang dimaksud di sini adalah apa yang diwajibkan oleh Allah kepada seorang laki-laki terhadap keluarganya, yaitu memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan (pakaian, makanan dan tempat tinggal) sebagai kebutuhan dasar dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Oleh karena itu, dalam hadits ini tidak digunakan kata “memberi makan”, tapi “memberi nafkah”, karena “memberi nafkah” lebih umum mencakup memenuhi kebutuhan makan dan kebutuhan pokok lainnya.
2. Keluarga yang dimaksud dalam hadits ini adalah semua orang yang menjadi tanggungan seorang laki-laki (kepala rumah tangga), terutama istri dan anak-anak. Kewajian seorang laki-laki atau kepala keluarga adalah memenuhi kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungannya. Seorang kepala rumah tangga harus bekerja dan berusaha mencari nafkah untuk keluarganya. Tidak boleh berpangku tangan atau malah membiarkan istrinya membanting tulang menafkahi keluarga.
3. Sedekah tidak terbatas pada harta atau uang, tapi bisa dengan tindakan dan amal perbuatan, seperti disebutkan pada hadits yang lain: “… menghilangkan duri dari jalan adalah sedekah, dan perkataan yang baik adalah sedekah…”
4. Dalam hadits ini terdapat petunjuk untuk mengembangkan amal perbuatan dengan membaguskan niat. Sebagai contoh, ada dua orang sama-sama mengerjakan suatu amal wajib atau sunnah yang sama, tapi salah satunya bisa mendapatkan pahala yang lebih jika dia membaguskan niat dan mengharap pahala dari Allah. Jadi, tidak sekedar pahala amal tersebut yang didapatkan tapi ada “bonus” dari Allah.
5. Sedekah yang dimaksud di sini adalah pahalanya. Jadi, orang yang melakukan amalan yang disebutkan dalam hadits ini akan mendapatkan dua macam pahala:
Pahala memberi nafkah kepada keluarga, karena dia telah melakukan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah, dan
Pahala sedekah sebagai pahala tambahan atau “bonus”.

Mengikuti Aturan-aturan yang Sehat Dalam Makan, Minum, dan Tidur
Islam mengatur etika dalam makan, minum, dan tidur demi kesehatan umatnya. Hal ini dimaksudkan, selain sehat juga dihitung sebagai ibadah. Berikut ini merupakan beberapa hadits yang menjelaskan mengenai etika bersantap dan tidur:
Etika Makan dan Minum
Membaca Basmallah, makan menggunakan tangan kanan, dan memakan makanan yang lebih dekat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah berikut ini:
يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
Artinya: “Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Bukhari no. 5376 dan Muslim 2022).
Dianjurkan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.
Memang dalam hal ini, tidak ditemukan satu pun hadits shahih yang membicarakan tentang cuci tangan sebelum makan, namun hanya berstatus hasan. Imam Baihaqi mengatakan, “Hadits tentang cuci tangan sesudah makan adalah hadits yang berstatus hasan, tidak terdapat hadits yang shahih tentang cuci tangan sebelum makan.”
Walau demikian, cuci tangan sebelum makan tetap dianjurkan, untuk menghilangkan kotoran atau hal-hal yang berbahaya bagi tubuh yang melekat di tangan kita.
Ibnu Muflih mengisyaratkan, bahwa cuci tangan sebelum makan itu tetap dianjurkan, dan ini merupakan pendapat beberapa ulama. Dalam hal ini ada kelapangan. Artinya jika dirasa perlu cuci tangan, jika dirasa tidak perlu tidak mengapa.
Mengenai cuci tangan sesudah makan, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang tidur dalam keadaan tangannya masih bau daging kambing dan belum dicuci, lalu terjadi sesuatu, maka janganlah dia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR. Ahmad, no. 7515, Abu Dawud, 3852 dan lain-lain, hadits ini dishahihkan oleh al-Albani)
Larangan mencela makanan.
Abu Hurairah r.a., berkata  ”Rasulullah saw. selamanya tidak pernah mencela makanan. Jika beliau suka dimakannya, bila tak suka ditinggalkannya.” (HR. Mutafaq alaihi).
Sunah makan dengan Tiga Jari.
Dari Ka’ab bin Malik r.a., dia berkata: “Aku melihat Rasulullah saw, makan dengan tiga jari. Bila telah selesai, beliau menjilatinya.” (HR. Muslim)
Anjuran makan dari pinggir talam.
Dari Ibnu Abbas r.a., dari Nabi saw., beliau bersabda: “Berkah itu turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari kedua pinggirnya, janganlah memulai dari tengahnya.” (HR. Abu Dawud dan Timidzi).
Makan dan minum sambil berdiri.
Hendaklah makan dan minum dengan baik dan tenang, yaitu dengan duduk. Namun jika dilakukan dengan berdiri juga tidak mengapa. Hadits mengenai etika makan dan minum sambil berdiri ini ialah sebagai berikut:
Hadits-Hadits yang melarang makan dan minum sambil berdiri:
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sambil minum berdiri. (HR. Muslim no. 2024, Ahmad no. 11775 dll)
Dari Abu Sa’id al-Khudriy, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang minum sambil berdiri. (HR. Muslim no. 2025, dll)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian minum sambil berdiri. Barang siapa lupa sehingga minum sambil berdiri, maka hendaklah ia berusaha untuk memuntahkannya.” (HR. Ahmad no 8135)
Hadits-hadits yang membolehkan makan dan minum sambil berdiri:
Dari Ibnu Abbas beliau mengatakan, “Aku memberikan air zam-zam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau lantas minum dalam keadaan berdiri.” (HR. Bukhari no. 1637, dan Muslim no. 2027)
Dari An-Nazal, beliau menceritakan bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu mendatangi pintu ar-Raghbah lalu minum sambil berdiri. Setelah itu beliau mengatakan, “Sesungguhnya banyak orang tidak suka minum sambil berdiri, padahal aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan sebagaimana yang baru saja aku lihat.” (HR. Bukhari no. 5615)
Dalam riwayat Ahmad dinyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Apa yang kalian lihat jika aku minum sambil berdiri. Sungguh aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah minum sambil berdiri. Jika aku minum sambil duduk maka sungguh aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk.” (HR Ahmad no 797)
Dari Ibnu Umar beliau mengatakan, “Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kami minum sambil berdiri dan makan sambil berjalan.” (HR. Ahmad no 4587 dan Ibnu Majah no. 3301 serta dishahihkan oleh al-Albany)
Di samping itu Aisyah dan Said bin Abi Waqqash juga memperbolehkan minum sambil berdiri, diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Zubaer bahwa beliau berdua minum sambil berdiri. (lihat al-Muwatha, 1720 – 1722)
Anjuran makan sambil berbicara.
Selama ini, di sebagian daerah bila ada orang makan sambil bicara dianggap tabu. Sudah saatnya anggapan demikian kita hapus dari benak kita, sunnah Nabi menganjurkan makan sambil bicara. Hal ini bertujuan menyelisihi orang-orang kafir yang memiliki kebiasaan tidak mau berbicara sambil makan. Kita diperintahkan untuk menyelisihi mereka dan tidak menyerupai mereka dalam hal-hal yang merupakan ciri khusus mereka.
Ibnul Muflih mengatakan bahwa Ishaq bin Ibrahim bercerita, “Suatu ketika aku makan malam bersama Abu Abdillah yaitu Imam Ahmad bin Hanbal ditambah satu kerabat beliau. Ketika makan kami sedikit pun tidak berbicara sedangkan Imam Ahmad makan sambil mengatakan alhamdulillah dan bismillah setelah itu beliau mengatakan, “Makan sambil memuji Allah itu lebih baik daripada makan sambil diam.” Tidak aku dapatkan pendapat lain dari Imam Ahmad yang secara tegas menyelisihi nukilan ini. Demikian juga tidak aku temukan dalam pendapat mayoritas ulama pengikut Imam Ahmad yang menyelisihi pendapat beliau di atas. Kemungkinan besar Imam Ahmad berbuat demikian karena mengikuti dalil, sebab di antara kebiasaan beliau adalah berupaya semaksimal mungkin untuk sesuai dengan dalil.” (Adab Syariyyah, 3/163)
Larangan bernafas dan meniup air minum.
Etika makan dan minum tidak luput dari kajian para ulama yang semuanya bersumberkan dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, antara lain anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak bernafas dan meniup air ke dalam gelas atau wadah air. Dalam hal ini, terdapat beberapa hadits:
Dari Abu Qatadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian minum maka janganlah mengambil nafas dalam wadah air minumnya.” (HR. Bukhari no. 5630 dan Muslim no. 263)
Dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk mengambil nafas atau meniup wadah air minum.” (HR. Turmudzi no. 1888 dan Abu Dawud no. 3728, hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani)
Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi mengatakan, “Larangan bernafas dalam wadah air minum adalah termasuk etika karena dikhawatirkan hal tersebut mengotori air minum atau menimbulkan bau yang tidak enak atau dikhawatirkan ada sesuatu dari mulut dan hidung yang jatuh ke dalamnya dan hal-hal semacam itu. Dalam Zaadul Maad IV/325 Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat larangan meniup minuman karena hal itu menimbulkan bau yang tidak enak yang berasal dari mulut. Bau tidak enak ini bisa menyebabkan orang tidak mau meminumnya lebih-lebih jika orang yang meniup tadi bau mulutnya sedang berubah. Ringkasnya hal ini disebabkan nafas orang yang meniup itu akan bercampur dengan minuman. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua hal sekaligus yaitu mengambil nafas dalam wadah air minum dan meniupinya.
Anjuran bernafas sebanyak tiga kali sebelum minum.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum beliau mengambil nafas di luar wadah air minum sebanyak tiga kali.” Dan beliau bersabda, “Hal itu lebih segar, lebih enak dan lebih nikmat.” Anas mengatakan, “Oleh karena itu ketika aku minum, aku bernafas tiga kali.” (HR. Bukhari no. 45631 dan Muslim no. 2028)
Yang dimaksud bernafas tiga kali dalam hadits di atas adalah bernafas di luar wadah air minum dengan menjauhkan wadah tersebut dari mulut terlebih dahulu, karena bernafas dalam wadah air minum adalah satu hal yang terlarang sebagaimana penjelasan di atas.
Yang memberi minum kepada orang banyak adalah yang terakhir minum.
Dari Abu Qatadah r.a. , dari Nabi saw., beliau bersabda: “Orang yang melayani minum orang banyak hendaklah ia paling akhir minum di antara mereka. Maksudnya, ia adalah orang yang paling terakhir minum.” (HR. Tirmidzi).
Etika Tidur
Adab-adab tidur sesuai ajaran Rasulullah SAW memang sudah sepantasnya kita terapkan. Bila kita mengikuti adabnya, maka Insya Allah tidur kita dinilai ibadah. Apabila tidur kita dinilai ibadah, coba bayangkan berapa banyak pahala yang kita dapatkan seumur hidup dari tidur kita? Katakan kita tidur 8 jam sehari, maka 1/3 dari hari kita gunakan hanya untuk tidur! Kalau ditelusuri terus sampai akhir hidup, maka kita menggunakan 1/3 hidup kita hanya untuk tidur! Maka dari itu kegiatan rutin ini merupakan hal yang sangat penting untuk menerapkan adab sesuai ajaran Rasulullah. Berikut di bawah hadist panduannya :
Dianjurkan introspeksi diri sebelum tidur.
Berintrospeksi diri (muhasabah) sesaat sebelum tidur. Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuha-sabah (berintrospeksi diri) sesaat sebelum tidur, menge-valuasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya, kembali dan bertobat kepada-Nya.
Berwudhu sebelum tidur.
Kita sebaiknya tidur dalam keadaan sudah berwudhu, sebagaimana hadits: “Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan sholat.” (HR. Al-Bukhari No. 247 dan Muslim No. 2710).
Mengibaskan tempat tidur bila hendak tidur.
Sebelum tidur, hendaknya mengibaskan tempat tidur (membersihkan tempat tidur dari kotoran). Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW : “Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan ‘bismillah’, karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” (HR. Al Bukhari No. 6320, Muslim No. 2714, At-Tirmidzi No. 3401 dan Abu Dawud No. 5050).

Posisi tidur yang baik adalah miring ke sebelah kanan.
untuk posisi tidur, sebaiknya posisi tidur di atas sisi sebelah kanan (rusuk kanan sebagai tumpuan). Tidak menjadi masalah jika pada saat tidur nanti posisi kita berubah ke atas sisi kiri. Hal ini berdasarkan sabda Rosululloh: “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710). “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud no. 5045, At Tirmidzi No. 3395, Ibnu Majah No. 3877 dan Ibnu Hibban No. 2350).
Membaca doa sebelum tidur.
“Bismikaallahumma ahya wa bismika wa amuut”. Yang artinya : Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.
Larangan telanjang ketika tidur.
Pada saat tidur tidak boleh telanjang berdasarkan hadits berikut : “Tidak diperbolehkan tidur hanya dengan memakai selimut, tanpa memakai busana apa-apa”. (HR. Muslim).
Dilarang tidur satu selimut dengan sesama jenis kelamin.
Laki-laki dengan laki-laki atau wanita dengan wanita tidak boleh tidur dalam satu selimut seperti hadits berikut : “Tidak diperbolehkan bagi laki-laki tidur berdua (begitu juga wanita) dalam satu selimut”. (HR. Muslim).

Makruh tidur tengkurap.
Abu Dzar Radhiallaahu anhu menuturkan : Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda : Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka. (H.R. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur.
Karena di dalam hadits yang bersumber dari `Ali bin Syaiban disebutkan bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda : Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya. (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
Disunnahkan mengusap Wajah dengan Tangan setelah Bangun.
Dari Jabir Radhiallaahu anhu diriwayatkan bahwa sesung-guhnya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda : Padamkanlah lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman. (Muttafaq `alaih)
Disunnahkan mengusap Wajah dengan Tangan setelah Bangun
Berdasarkan hadits berikut : “Maka bangunlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari tidurnya kemudian duduk sambil mengusap wajah dengan tangannya.” [HR. Muslim No. 763 (182)].
Bersiwak Setelah Bangun.
Berdasarkan hadits berikut : “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun malam membersihkan mulutnya dengan bersiwak.” (HR. Al Bukhari No. 245 dan Muslim No. 255).
Ber-istinsyaq dan ber-istintsaar.
Ber-istinsyaq dan ber-istintsaar (menghirup kemudian mengeluarkan atau menyemburkan air dari hidung). “Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka beristintsaarlah tiga kali karena sesunggguhnya syaitan bermalam di rongga hidungnya.” (HR. Bukhari No. 3295 dan Muslim No. 238).
Mencuci Kedua Tangan Tiga Kali.
Mencuci kedua tangan tiga kali, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila salah seorang di antara kamu bangun tidur, janganlah ia memasukkan tangannya ke dalam bejana, sebelum ia mencucinya tiga kali.” (HR. Al-Bukhari No. 162 dan Muslim No.278).
Apabila Gelisah.
Apabila merasa gelisah, risau, merasa takut ketika tidur malam atau merasa kesepian maka dianjurkan sekali baginya untuk berdoa sebagai berikut: “A’udzu bikalimaatillahi attammati min ghadhabihi wa ‘iqaabihi wa syarri ‘ibaadihi wa min hamazaatisysyayaathiin wa ayyahdhuruun.” Yang artinya “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, siksa-Nya, dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dari godaan para syaitan dan dari kedatangan mereka kepadaku.” (HR. Abu Dawud No. 3893, At-Tirmidzi No. 3528 dan lainnya).
Apabila bermimpi buruk.
Jika bermimpi buruk, jangan sekali-kali menceritakannya pada siapapun, kemudian meludah ke kiri tiga kali (diriwayatkan Muslim IV/1772), dan memohon perlindungan kepada Alloh dari godaan syaitan yang terkutuk dan dari keburukan mimpi yang dilihat. (Itu dilakukan sebanyak tiga kali) (diriwayatkan Muslim IV/1772-1773). Hendaknya berpindah posisi tidurnya dari sisi sebelumnya. (diriwayatkan Muslim IV/1773). Atau bangun dan shalat bila mau. (diriwayatkan Muslim IV/1773).

Melindungi Diri Dari Penyakit Menular
Makhluk hidup diciptakan Tuhan dengan kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap ancaman dari luar. Untuk manusia misalnya, salah satu ancaman itu adalah penyakit, terutama penyakit infeksi yang dibawa oleh berbagai macam mikroba seperti virus, bakteri, parasit, jamur. Dari sananya, ternyata tubuh mempunyai cara dan alat untuk mengatasi penyakit sampai batas tertentu. Umpamanya, untuk beberapa jenis penyakit seperti pilek dan batuk, dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan. Dalam hal ini dikatakan bahwa sistem pertahanan atau kekebalan tubuh (sistem imun) orang tersebut cukup baik untuk mengatasi dan mengalahkan kuman-kuman penyakit itu. Tetapi bila kuman penyakit itu ganas, sistem imun (terutama pada anak-anak atau pada orang dewasa dengan daya tahan tubuh yang lemah) tidak mampu mencegah kuman berkembang biak, sehingga dapat mengakibatkan penyakit berat yang membawa kepada cacat atau kematian.
Kata imun berasal dari bahasa Latin immunitas yang berarti pembebasan (kekebalan). Saat itu, istilah ini diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan mereka terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa dan terhadap dakwaan. Dalam sejarah, istilah ini kemudian berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik lagi, terhadap penyakit menular.
Hadist tentang antisipasi wabah penyakit :
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ فِي أَرْضٍ فَلا تَدْخُلُوهَا ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلا تَخْرُجُوا مِنْهَا
Artinya:
“Jika kalian mendengar ada wabah penyakit di suatu daerah maka kalian jangan memasuki daerah tersebut, dan jika wabah tersebut mengenai suatu daerah dan kalian berada di dalamnya maka janganlah kalian keluar dari daerah tersebut.” (HR. Al-Bukhari)
أن أبا هريرة قال : إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ( لا عدوى ) قال أبو سلمة بن عبد الرحمن سمعت أبا هريرة : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال (لَا تُورِدُوا الْمُمْرِض عَلَى الْمُصِحّ)
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a dia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “ la ‘adwa (tidak ada penyakit menular). Abu Salah bin ‘Abdurrahman berkata: ‘Saya mendengar Abu Hurairah berkata’: ‘Dari Nabi SAW bersabda: ”Janganlah kalian campur hewan sakit dengan yang masih sehat.” (HR. Al-Bukhari)
Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh. Kuman disebut antigen. Pada saat pertama kali antigen masuk ke dalam tubuh, maka sebagai reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibodi.
Hadist tentang leburan dosa karena sakit :
أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ (مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا)
Artinya:
‘Aisyah r.a istri Nabi berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada musibah yang mengenai seorang muslim melainkan karena sebab musibah itulah Allah akan melebur dosa-dosanya, sekalipun ia terkena duri.” (HR. Al-Bukhari)
Pada umumnya, reaksi pertama tubuh untuk membentuk antibodi tidak terlalu kuat, karena tubuh belum mempunyai “pengalaman.” Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan seterusnya, tubuh sudah mempunyai memori untuk mengenali antigen tersebut sehingga pembentukan antibodi terjadi dalam waktu yang lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak. Itulah sebabnya, pada beberapa jenis penyakit yang dianggap berbahaya, dilakukan tindakan imunisasi atau vaksinasi. Hal ini dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar tubuh tidak terjangkit penyakit tersebut, atau seandainya terkena pun, tidak akan menimbulkan akibat yang fatal.
Hadist larangan mengharapkan kematian :
عن أنس بن مالك رضي الله عنه : قال النبي صلى الله عليه و سلم : لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ ، اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي ، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي
Artinya:
Dari Anas bin Malik r.a. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Janganlah salah satu diantara kalian mengharap kematian sebab penyakit yang menimpanya. Kalaupun sangat mendesak, maka berdoalah ‘Ya Allah, hidupkanlah hamba jika hidup itu lebih baik bagiku dan matikanlah hamba jika kematian itu baik bagiku.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Melindungi diri dari penyakit menular merupakan sunnah Nabi. Setiap orang tua wajib menjaga anaknya dari serangan penyakit menular seperti kusta, flu burung, dan lain-lain. Sebagaimana yang pernah disabdakan Nabi berikut ini:
“Larilah dari orang yang berpenyakit kusta sebagimana engkau lari dari singa” (H.R. Bukhari)
“Apabila terjadi dalam satu negeri suatu wabah penyakit dan kamu di situ janganlah kamu ke luar meninggalkan negeri itu. Jika terjadi sedang kamu di luar negeri itu janganlah kamu memasukinya.” (HR. Bukhari)
Namun selain menjaga diri dari penyakit menular, ada etika bagi yang memiliki penyakit, yakni tidak boleh mendekati orang yang sehat. Sebab ini ditakutkan dapat menyebabkan orang yang sehat tadi tertular penyakit yag dialaminya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW berikut ini:”Janganlah orang sakit mengunjungi orang sehat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pengobatan Terhadap Penyakit
Jika salah satu anggota keluarga sakit, maka hendaklah bagi anggota keluarga lainnya untuk mencarikan obat yang dapat menyembuhkannya. Sebab tidak mungkin Allah menurunkan sebuah penyakit jika tanpa disertai obatnya. Memang pada hakikatnya yang menyembuhkan adalah Allah swt., namun kesembuhan tersebut bisa terjadi jika melalui perantara, yakni obat. Hal ini sesuai dengan hadits-hadits berikut:
Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kami berobat?” Beliau menjawab, “Ya, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya Allah meletakkan penyakit dan diletakkan pula penyembuhannya, kecuali satu penyakit yaitu penyakit ketuaan (pikun)” (HR. Ashabussunnah)
Allah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya, diketahui oleh yang mengetahui dan tidak akan diketahui oleh orang yang tidak mengerti. (HR. Bukhari dan Muslim)
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Beberapa tanggung jawab yang dipikulkan Islam di atas pundak para pendidik, seperti ayah, ibu dan pengajar, adalah tanggung jawab fisik. Yang demikian itu agar anak-anak tumbuh dewasa dengan kondisi fisik yang kuat dan selamat, sehat bergairah dan bersemangat. Dasar-dasar ilmiah yang digariskan Islam dalam mendidik fisik anak-anak ialah supaya para pendidik dapat mengetahui besarnya tanggung jawab dan amanat yang diserahkan Allah swt.
Setiap orangtua wajib memberikan nafkah kepada anaknya. Dan nafkah yang dimaksudkan ialah yang halal. Orangtua juga diwajibkan mengajarkan etika yang sehat dalam makan, minum, dan tidur, dan tentunya sesuai dengan ajaran Islam. Tidak hanya itu, orangtua juga bertanggung jawab atas diri si anak. Orangtua hendaknya selalu memberikan perlindungan kepada anak, baik itu penyakit maupun hal-hal yang dapat membahayakan jiwa keluarga. Jika anggota keluarga ada yang sakit, maka wajib bagi orangtua mengobatkannya. Selain itu, salah satu cara memberikan pendidikan terhadap anak ialah dengan mengajarkan anak untuk membiasakan berolah raga ketangkasan dan memberikan sikap yang tegas jika ada anggota keluarga yang melanggar aturan.

Saran-saran
Manusia sebagai makhluk pribadi, sosial, susila dan religi harus dikembangkan secara seimbang, selaras dan serasi. Perlu disadari, bahwa manusia hanya mempunyai arti hidup secara layak jika ada diantara manusia lainnya. Untuk itu sebagai orang tua harus bertanggung jawab dan memberikan pendidikan fisik terhadap keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan terjemahnya, Kementrian Agama, Jakarta, 1971.
Abu Zakarya Yahya, Terjemah Riyadhush Shalihin jilid II, Al-Hidayah, Surabaya, 1997.
Moh. Saifullah Al Aziz, Fiqih Islam Lengkap, Terbit Terang, Surabaya, 2005.

http://lenteratungkal.blogspot.com/2010/12/tanggung-jawab-orang-tuaterhadap.html

http://www.al-kauny.com/index.php?option=com_k2&view=item&id=470:hadits-keutamaan-memberi-nafkah-kepada-keluarga

http://muhfachrizal.blogspot.com/2011/07/adab-tidur-dalam-islam-sesuai-ajaran.html

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s