Tag Archive | psikologi pendidikan

Kenali Tujuh Kemampuan Diri

Tanpa sadar sering kali orang langsung menilai seorang anak yang kerap mendapat nilai buruk di sekolah sebagai anak bodoh. Tak jarang pula terdengar orangtua yang merasa gundah begitu tahu hasil tes IQ (Intelligency Quotient) anaknya di bawah rata-rata. Sebagian orang menganggap IQ  seseorang itu sesuatu yang sifatnya permanen, tak mungkin ditingkatkan lagi.
Sebenarnya inteligensi seseorang itu bisa ditingkatkan dan bukan sesuatu yang mandek. Ada sementara pendapat yang menyatakan, pada usia 0 – 16 tahun sebenarnya IQ seseorang masih bisa ditingkatkan, pada usia 16 – 30 tahun cenderung stabil, dan di atas 30 tahun umumnya kemampuan seseorang mulai menurun.
Setiap orang memiliki belahan otak kiri dan otak kanan dalam dirinya. Idealnya, baik belahan otak kiri maupun otak kanan tersebut sama-sama berkembang. Namun pelajaran di sekolah umumnya lebih banyak menuntut kemampuan belahan otak kanan cenderung tak berkembang. Hal ini bisa merugikan anak yang belahan otak kanannya lebih berkembang daripada belahan otak kirinya. Anak yang begini tak jarang dianggap tak mampu mengikuti pelajaran di sekolah, padahal belum tentu pendapat itu benar.
Kurikulum sekolah yang lebih menekankan kemampuan otak kiri, memang menyusahkan bagi mereka yang kemampuan otak kanannya lebih dominan. Mereka yang otak kirinya dominan melakukan pendekatan pemecahan masalah berdasarkan fakta, analisa, perhitungan angka, dan menyatakannya dengan menunjukkan fakta disertai urutan logis. Mereka cenderung lebih mampu menghafal atau penurut, jadi tak bermasalah untuk sekolah yang umunya menuntut murid menghafal.
Mereka yang otak kanannya dominan mendekati persoalan berdasarkan spontanitas apa yang ada dalam pikiran, imajinasi, bentuk , suara, dan gerakan, lalu dikonsepkan dalam intuisinya. Mereka umumnya tak sukses di sekolah formal.  Karena mereka berkembang dengan kreativitas, bukan meniru apa yang diajarkan oleh guru, akibatnya, seringkali jawaban yang diberikan murid tak diterima oleh guru.
Sebenarnya setiap manusia mempunyai kemampuan diri yang berbeda-beda. Oleh karena itu, muncul perbedaan dalam proses penyerapannya. Ada tujuh inteligensi atau kemampuan anak yang berbeda-beda:
Kemampuan dasar orang, yaitu bahasa atau linguistik. Di sini kemmapuan anak mengolah kata terus berkembangyag biasanya seiring bertambahnya usia. Kemampuan ini umunya tak jadi masalah baik di sekolah maupun di luar sekolah. Hanya saja kalau sudah dewasa, orang yang kemampuan bahasanya bagus biasanya bisa berargumentasi dengan menrik dan persuasif.
Kemampuan logika mencakup rasionalitas, mengurutkan kejadian atau menarik hubungan antara simbol yang satu dengan yang lainnya, dan memikirkan sesuatu berdasarkan sebab akibatnya.
Kemampuan visual, yaitu kemampuan berpikir berdasarkan gambar, ruang atau bentuk yang dilihatnya dan mentransformasikannya dalam deskripsi yang baik dalam pikiran.
Kemampuan musikal atau ritme. Mereka yang kemampuan ritmenya tinggi antara lain mempunyai kemampuan mendengar perbedaan suara dengan baik.
Kinestetik atau kemampuan menendalikan dan meningkatkan fisiknya, misalnya kecepatan tubuh dalam bereaksi.
Kemampuan interpersonal, yaitu berhubungan atau bekerja sama dengan orang lain. Di sini termasuk empati, memahami orang lain, dan mudah bergau,
Interpersonal artinya kemampuan mawas diri, melihat dirinya sendiri dengan cara bagaimana orang lain melihat dirinya.
Ketujuh kemampuan itu ada pada semua orang di belahan otak kiri dan otak kanannya, hanya saja antara satu orang dengan yang lainnya berbeda mana yang lebih menonjol. Kalau pengetahuan itu bisa diketahui lebih dini, kekurangan dari salah satu atau lebih kemampuan itu bisa dikembangkan atau ditingkatkan.
Peningkatan ketujuh kemampuan tersebut akan maksimal bila dilatih sejak dini. 30 persen kemampuan itu berasal dari keturunan, dan selebihnya merupakan kemampuan yang dikembangkan.
Misalnya, untuk mengasah kemampuan musikal anak, sejak dini kepada mereka diperdengarkan berbagai jenis musik. Di sini tak hanya kemampuan musikal yang berkembang, tapi juga kepekaan perasaannya. Kemampuan itu tidak berdiri sendiri-sendiri, tetapi saling berhubungan dan saling melengkapi.
Untuk mengasah kemampuan interpersonal dapat dilatih, misalnya dengan membiasakan anak membuat buku harian. Pada saat tertentu ketika si anak membaca lagi catatan hariannya, ia diharapkan bisa merenungi apa saja yang telah ia lakukan selama ini, apa yang kurang atau apa yang salah selama perjalan hidupnya.
Mengenai kreativitas, hal ini tak hanya menyangkut bidang seni. Kreativitas sebenarnya ada juga dalam kemampuan bahasa dan logika. Contohnya, kreativitas logika akan mandek apabila anak terus-terusan dijejali mengenai pendapat-pendapat yang bersifat mitos, misalnya anak lelaki tak boleh cerewet atau tak boleh main boneka dan sebagainya.

Fenomena Tragis Pendidikan Anak

Kerapkalai orang tua mengeluhkan bayaknya materi yang harus dipelajari anak, bahkan ketika anak masih duduk di bangku sekolah dasar. Materi yang terlalu banyak, selain memberatkan anak, juga bisa membawa dampak buruk terhadap perkembangan jiwa anak. Anak-anak yang dirampas masa bermainnya cenderung menjadi bermasalah satelah tiba masanya ia dituntut lebih menekuni pelajarannya secara penuh. Kerugian lain, karena sebagian materi pelajaran yang dianggap membebani anak itu sesungguhnya sesuatu yang tidak begitu perlu diberikan.
Selain itu, cara belajar-mengajar bukan dengan metode dialog, dinilai kurang mengangkat potensi kreatif yang ada pada diri setiap peserta didik. Anak secara pasif saja menerima dan tidak terbiasa dilatih memberikan suatu pengertian, definis atau konsep dengan kata-katanya sendiri. Hal itu disebabkan oleh tradisi pendidikan di negeri ini yang menyuruh para peserta didik hanya menghafal saja tanpa adanya pemahaman bagi anak tentang apa yang sedang dihafalnya. Bahkan untuk beberapa bidang studi, sering melebihi kemampuan daya serap abstraksi anak. Seperti halnya pelajaran sejarah, anak didik masih saja dituntut untuk menghafal tahun, nama tokoh, atau pun tempat kejadian tanpa memetik hikmah dari balik peristiwa sejarah yang bisa dijadikan bekal untuk memperkaya nilai kehidupannya.
Jika dibandingkan dengan metode pengajaran yang dipakai Amerika atau Australia, metode pendidikan kita jelas jauh tertinggal. Di  Amerika atau Australia menekankan pengajaran yang membiri pengenalan dan bersifat memberi pengalaman lapangan, serta tidak terlalu banyak teori. Misalnya, melihat lebih dekat tentang kesibukan kantor polisi, pemadam kebakaran, ataupun cagar budaya yang ada di wilayahnya. Ini jauh memberi manfaat daripada sekedar menghafal nama sekian puluh kecamatan di wilayahnya, tanpa diajak melihat sendiri seperti apa wujud kecamatan atau kesibukan apa yang berlangsung di puskesmas, terminal atau bank.
Pelajarn mengarang di sekolah sebagai salah satu cara melatih sistematika berpikir anak cenderung diabaikan. Padahal cara ini besar manfaatnya bagi pengembangan keahlian yang bakal dimiliki anak kelak, untuk biadang profesi apapun. Sementara anak-anak di dunia barat dibiasakan mengekspresikan buah pikirannya dengan tulisan, dan dikerjakan sama lancarnya dengan ungkapan lisan. Selain itu, sistem peringkat di sekolah juga telah meresahkan orang tua. Seorang anak bisa turun atau naik peringkatnya yang disebabkan oleh bukan bidang studi inti. Orangtua yang ambisius akan memaksa anaknya untuk mengikuti berbagai macam pelajaran tambahan (les) agar bisa naik peringkat atas. Tanpa disadari, kegiatan sehari-hari anak tersebut menyita banyak waktu dan mengakibatkan hilangnya kesempatan bermain.
Pendidkan yang memaksakan anak menerima beban melebihi kapasitasnya, tentu saja membuat anak berkembang secara tidak sehat. Keinginan untuk menciptakan anak “super”, bisa jadi justru menghasilkan anak bermasalah. Fenomena lain tentang pendidikan di Indonesia ini ialah tentang UN (Ujian Nasional). UN merupakan progaram pemerintah untuk menentukan kualitas pendidikan di negara ini. UN juga merupakan tolok ukur yang menentukan kelulusan anak didik dengan mematok nilai standar kelulusan yang cukup tinggi, tanpa adanya pertimbangan lain untuk kelulusan bagi anak didik. Bagi yang bernilai standar atau lebih, bisa dikatakan lulus. Namun bagi yang nilainya masih kurang, bersiap-siap untuk mengulang satu tahun lagi.
Fenomena itu sungguh tragis. Betapa banyak siswa yang tidak lulus setiap tahunnya. Namun pihak sekolah tidak hanya diam menghadapi masalah ini. Ada pihak sekolah yang mengadakan pelajaran tambahan di luar jam sekolah untuk menambah pengetahuan bagi si anak didik. Bahkan tidak sedikit juga pihak sekolah yang memberikan “keajaiban” selagi UN berlangsung. Hal ini disebabkan oleh pihak sekolah malu jika ada anak didiknya sampai tidak lulus, sehingga menghalalkan segala cara untuk meluluskannya.
Harapan mencetak generasi bangsa yang cerdas, kreatif, dan berkualitas hanya merupakan mimpi. Alih-alih menjadikan generasi penuh prestasi, kini jadinya malah mencetak anak bangsa yang  pandai berbohong. Alangkah baiknya jika sistem pendidikan yang diterapkan saat ini dikaji ulang, sehingga tidak menimbulkan dampak yang terlalu berat bagi perkembangan anak didik selanjutnya.